Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kisah Jamu Indonesia Sembuhkan Pasien Covid-19 di Swedia

Vermint atau yang lebih tren dikenal sebagai obat cacing oleh masyarakat Indonesia memang berasal dari ekstrak cacing tanah atau Lumbricus rubellus yang sudah diolah dalam bentuk kapsul.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 27 Maret 2020  |  14:35 WIB
Nathania Setiawan (kanan) dan suami.  - Dokumen pribadi
Nathania Setiawan (kanan) dan suami. - Dokumen pribadi

Bisnis.com, JAKARTA - Wabah covid-19 yang muncul menggegerkan berbagai belahan dunia sejak awal tahun hingga kini masih mengundang sejumlah pertanyaan, khususnya dari sisi pegobatan yang tepat. Beragam kisah penyembuhan pasien Covid-19 pun masih menjadi perbincangan yang menarik hari ini.

Salah satunya kisah warga negara Indonesia (WNI)  yang kini tengah menetap di Swedia. Namanya, Nathania Setiawan (26 tahun) atau yang kerap disapa Thania. Awalnya, dia menggunakan akun instagram pribadinya untuk berbagi cerita.

Dia dinyatakan sebagai pasien Covid-19 di Swedia usai menjalani perjalanan panjang dari  Indonesia. Kegigihannya untuk sembuh dari Covid-19 pun berbuah nyata. Uniknya, Thania mengaku obat paling ampuh yang dikonsumsi yakni produk obat jenis jamu dari Indonesia.

Cerita dimulai pada 10 Januari 2020 lalu tiga hari setelah pulang dari Indonesia pada 7 Januari 2020. Thania merasakan sakit di tenggorokan berupa batuk kering tanpa dahak ditambah pilek hingga tidak enak badan. Sakit pun berlanjut pada 12 Januari, demam Thania melonjak 39,9 derajat Celsius ditambah diare.

"Di Bandara Doha, Qatar sudah banyak yang batuk-batuk tetapi saya tidak punya pikiran macam-macam karena badan memang sudah lelah di perjalanan yang memakan waktu 20 jam dari Jakarta," katanya kepada Bisnis melalui layanan pesan singkat, Jumat (27/3/2020)

Sakit Thania berlanjut hingga pada 13 Januari 2020, dia memutuskan untuk ke rumah sakit (RS) tetapi ditolak, bahkan pintu RS tertulis jika sakit batuk, panas, pulang, dan minum paracetamol juga istirahat cukup.

Menurutnya, hal itu bukan karena wabah Covid-19 yang mulai melanda di berbagai belahan dunia.

Thania pun memutuskan memahami hal tersebut, dan mulai mengonsumsi paracetamol dua butir tiga kali sehari. Keesokan harinya, bukan mereda panas Thania malah meningkat hingga 40,1 derajat Celsius ditambah pendarahan di hidung atau mimisan serta saat bernapas sakit.

Dia menyebut suaminya pun memutuskan izin dari kantor untuk merawat karena kondisinya yang semakin mengkhawatirkan.

Kondisi diperparah pada keesokan harinya (15/1/2020), sang suami juga menderita demam hingga 40 derajat Celsius dan batuk kering. Thania pun meminta kepada suaminya untuk memeriksakan kembali di RS milik institusi. Beruntung kali ini keduanya diterima dan langsung diperiksa di Unit Gawat Darurat (UGD).


"Saya datang dengan darah mimisan di hidung, di sini harus parah sekali baru diterima. Jadi, setelah proses wawancara riwayat perjalanan kami, mereka mengambil sampel dari badan kami. Setelah seharian rebahan di UGD, dokter pun datang dengan pakaian pelindung. Kami dinyatakan terkena virus unik, terlihat seperti H1N1 atau Influenza A dan menurutnya itu tidak parah. Kami pun dibuatkan resep obat batuk cair dan tablet larut," ujar Thania.

Tak berhenti di situ, upaya Thania untuk sembuh pun ditambah dengan membongkar koper persediaan obat yang dibawa dari Indonesia. Dia pun menemukan Vermint, Tolak Angin, dan multivitamin yang memang rutin dibawa untuk persediaan obat selama di sana.

Alhasil usai mengonsumsi Vermint dan berbagai resep dokter pada hari kelima, demam berangsur mereda pada hari kedelapan hingga sembilan. Thania mengaku efek konsumsi Vermint yang paling ampuh meredakan demam dengan baik. Dia dan suami melanjutkan konsumsi hingga menghabiskan dua botol Vermint.

Protein

Suami Thania juga sempat melakukan pencarian daring terkait kandungan dalam Vermint. Hasilnya Vermint bukan hanya membantu menurunkan panas, tetapi ada protein di dalam jumlah besar yang ketika itu mereka sudah tidak harapan dan berpikir bahwa tubuh memerlukan banyak asupan itu.

"Jadi kami pilih Vermint untuk jadi asupan protein setelah turun panas, dan dibarengi makanan bergizi lainnya di Swedia seperti cottage cheese, protein pudding, sayur hijau, ikan, couscous, quinoa," tutur Thania.

Sepengetahuan Thania sejak kecil di Indonesia Vermint adalah obat tifus, tetapi juga efektif untuk mengobati paru yang sesak karena berlendir. Singkat cerita, hingga penghujung Februari Thania merasakan badannya mulai pulih membaik. Seketika itu, Thania pun baru mendapat kabar dari RS bahwa dia dan suami sebenarnya menderita Covid-19.

"Saya ditelepon dan bicara sama dokter dan guru besar institusi RS tersebut, dokter itu bilang kemungkinan kami bukan terkena H1N1 tetapi Covid-19. Saat saya sakit itu masih satu kasus di Jönkoping dan terkesan tidak mungkin saya Covid-19 kalau balik dari Indonesia yang saat itu masih 0 kasus," katanya.

Dugaan positif Covid-19 juga dikorfimasi oleh suster yang menanganinya saat itu, karena suster itu pun dinyatakan positif Covid-19. Dokter mengatakan hasil sampel Thania dalam bentuk digital telah dibuka kembali dan dicocokkan dengan kasus pertama Covid-19 di sana.

Thania dan suami pun diminta tes ulang pada 28 Februari 2020, dan meminta teman terdekatnya juga turut melakukan tes.

Akhirnya, Thania dan suami kembali untuk melakukan tes ulang sembari menyerahkahkan sisa obat dari Indonesia yang dikonsumsi untuk penyembuhan karena diminta oleh pihak RS. Thania pun membaca kebingungan para tenaga medis di sana yang menilai Thania cukup sehat selama terjangkit Covid-19 tidak seperti pasien pertama yang akhirnya meninggal.

Thania mengaku telah mengonsumsi Vermint sejak duduk di bangku kuliah karena menderita sakit tifus. Sepengetahuannya Vermint dikonsumsi masyarakat Indonesia untuk menyembuhkan DBD dan tifus.

Saat ini dia mengaku sudah dapat melakukan aktifitas seperti biasa yakni berkerja dan kuliah di sana. Menurut Thania penanganan Covid-19 di Swedia memang tidak segaresif di negara lain termasuk Indonesia, bahkan kebijakan WFH atau kerja dari rumah yang kini diterapkan di Tanah Air tidak berlaku di sana.

Thania menyebut angka positif Covid-19 di Swedia per pekan ini berkisar 2.300 kasus dari 9 juta penduduk saja, lonjakan terjadi setelah ada pasien yang diduga membawa virus dari Italia dan imigran Iran yang kembali dari libur Natal dan marathon di Stockholm minggu lalu.

Menurutnya, kondisi pasien yang kritis di atas 70 dapat perawatan, dan yang muda tidak kritis diminta hanya melakukan istirahat di rumah. Namun, itu pun tanpa pengawasan yang memadai.

"Kalau di Indonesia sempat baca Pak Jokowi beli 3 juta obat sementara, juga polisi Indonesia yang galak mengimbau masyarakat yang keluyuran agar pulang. Itu bentuk perhatian yang amat besar menurut kami di sini," katanya.

Vermint


Vermint atau yang lebih tren dikenal sebagai obat cacing oleh masyarakat Indonesia memang berasal dari ekstrak cacing tanah atau Lumbricus rubellus yang sudah diolah dalam bentuk kapsul. Vermint di produksi oleh PT Vermindo Indonesia yang sudah lulus uji dan kini sudah beredar selama 20 tahunan.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Jamu (GP Jamu) Dwi Ranny Pertiwi yang juga pengembang produk Vermint mengatakan di Tanah Air, penjualan produk jamu kini semakin meningkat akibat wabah Covid-19.

Bahkan, menurutnya, khusus untuk produk simplisia atau rempah kering kenaikannya hingga 50 persen dari sebelum munculnya wabah Covid-19.

"Di pasar lokal jamu yang untuk menjaga stamina atau daya tahan tubuh dengan bahan baku utama jahe, kunyit, temulawak juga permintaannya meningkat pesat," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri jamu Virus Corona
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

BisnisRegional

To top