Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Realisasi DMO Batu bara Maret Capai 16,37 Juta Ton

Adapun, target DMO batu bara yang mencapai 150 juta ton tersebut terdiri dari kebutuhan listrik untuk PLN sebesar 109 juta ton, pengolahan dan permunian 16,52 juta ton, pupuk 1,73 juta ton, semen 14,54 juta ton, tekstil 6,54 juta ton, kertas 6,64 juta ton, briket 0,01 juta ton.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 23 Maret 2020  |  09:28 WIB
Salah satu lokasi pertambangan batu bara di Kalimantan Timur. - JIBI/Rachmad Subiyanto
Salah satu lokasi pertambangan batu bara di Kalimantan Timur. - JIBI/Rachmad Subiyanto

Bisnis.com, JAKARTA - Realisasi pemenuhan kebutuhan batu bara di dalam negeri atau domestic market obligation (DMO) hingga awal Maret mencapai 16,37 juta ton.

Direktur Pembinaan Pengusahaan Batubara Direktorat Jenderal Mineral dan BatuBara Kementerian ESDM Sujatmiko mengatakan sepanjang tahun ini kebutuhan batu bara untuk dalam negeri mencapai 155 juta ton naik dari realisasi tahun lalu yang mencapai 138 juta ton.

Adapun, target DMO batu bara yang mencapai 150 juta ton tersebut terdiri dari kebutuhan listrik untuk PLN sebesar 109 juta ton, pengolahan dan permunian 16,52 juta ton, pupuk 1,73 juta ton, semen 14,54 juta ton, tekstil 6,54 juta ton, kertas 6,64 juta ton, briket 0,01 juta ton.

"Hingga awal Maret, realisasi DMO capai 16,37 juta ton," ujarnya kepada Bisnis akhir pekan lalu.

Dia menyakini para pengusaha batu bara dapat memenuhi kebutuhan DMO meski kondisi ekonomi tengah tertekan. Adapun harga jual batu bara untuk kelistrikan umum sebesar US$70 per ton di tahun ini.

Untuk harga jual batu bara untuk industri lain di dalam negeri mengacu pada Harga Batubara Acuan (HBA) yang ditetapkan pemerintah setiap bulan.

"Diproyeksikan hingga akhir kuartal pertama nanti diperkirakan berada dikisaran US$65 per ton hingga US$67 per ton. Dengan posisi HBA yang di bawah US$70 per ton ini, perusahaan tambang memprioritaskan penjualan batu bara di dalam negeri sehingga target DMO akan tercapai," tuturnya.

Dia menuturkan apabila perusahaan tak bisa memenuhi ketentuan DMO maka akan dikenakan sanksi atau kewajiban pembayaran kompensasi terhadap sejumlah kekurangan penjualan batu bara dalam negeri.

Adapun besaran kompensasi merupakan kekurangan volume kewajiban pemenuhan DMO dikalikan tarif berdasarkan kualitas batu bara yang diekspor.

"Tarifnya US$0,5 per ton untuk kalori yang kurang dari 4.200 Kkal/kg GAR, tarif US$1 per ton untuk kalori 4.200 hingga 5.000 Kkal/kg GAR, tarif US$1,5 ton untuk lebih dari 5.000 Kkal/kg GAR," kata Sujatmiko.

Selain pengenaan sanksi denda juga ada sanksi tambahan berupa pengurangan produksi batu bara tahun berikutnya sesuai dengan jumlah kekurangan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batu bara dmo mineral kementerian esdm
Editor : David Eka Issetiabudi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top