Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

IATA: Maskapai Global Butuh Bailout Hingga US$200 miliar

industri penerbangan global membutuhkan bailout total antara US$150 miliar dan US$200 miliar untuk bertahan dari krisis akibat virus Corona.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 19 Maret 2020  |  09:06 WIB
Direktur Jenderal dan CEO IATA Alexandre de Juniac saat memberikan pidato pada pembukaan IATA Annual General Meeting dan World Air Transport Summit ke-74 di Sydney, Australia, Senin (4/6). - Bisnis/Siti Munawaroh
Direktur Jenderal dan CEO IATA Alexandre de Juniac saat memberikan pidato pada pembukaan IATA Annual General Meeting dan World Air Transport Summit ke-74 di Sydney, Australia, Senin (4/6). - Bisnis/Siti Munawaroh

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Transportasi Udara Internasional, IATA, menyebutkan industri penerbangan global membutuhkan bantuan dari pemerintah. Bantuan dimaksud adalah skema bailout total antara US$150 miliar dan US$200 miliar untuk bertahan dari krisis akibat virus Corona.

Perkiraan bailout global IATA muncul setelah kelompok perdagangan Airlines for America mengatakan bahwa operator AS akan membutuhkan bantuan senilai US$58 miliar.

Selain itu Italia memerlukan dana senilai 600 juta euro (US$ 658 juta) untuk Alitalia dalam paket stimulus virus Corona yang diusulkan sebagai bagian dari rencana untuk menasionalisasi kembali maskapai tersebut.

Kepala Eksekutif IATA Alexandre de Juniac mengatakan pemerintah di seluruh dunia telah mengindikasikan untuk secara aktif mengeksplorasi proposal dalam menyelamatkan maskapai. Di antaranya dengan rencana Italia untuk menasionalisasi kembali Alitalia.

Airbus SE dan Boeing Co. juga dalam pembicaraan tentang dukungan negara. Sementara itu sejumlah maskapai asal Eropa mengumumkan penutupan sementara dalam upaya memenuhi persyaratan kebersihan yang lebih ketat.

Alhasil, prediksi IATAsebelumnya pada 5 Maret bahwa perusahaan penerbangan global akan kehilangan US$113 miliar pendapatan tahun ini menjadi kurang valid. Saat itu IATA tidak memperhitungkan penutupan perbatasan dan larangan yang diberlakukan di seluruh dunia karena virus telah menyebar.

"Maskapai penerbangan membutuhkan berbagai langkah, mulai dari dana talangan penuh hingga pinjaman, jaminan pinjaman, dukungan pasar obligasi dan keringanan pajak. Bahkan, mungkin setelah krisis berlalu, operator tetap masih dalam kondisi lemah dan pemerintah harus mengurangi beban umum di sektor ini," kata Juniac seperti dilansir Bloomberg, Kamis (19/3/2020).

IATA yang saat ini mewakili 290 maskapai penerbangan di seluruh dunia mengaku cukup puas dengan tanggapan pemerintah terhadap permintaan bantuan dari industri penerbangan. Juniac memuji intervensi negara dalam mendukung maskapai penerbangan di Singapura, Korea Selatan dan China, dan bentuk paket-paket kebijakan yang disatukan di AS, UK, dan Uni Eropa tampak positif.

Juniac juga memprediksikan banyak maskapai yang menunda atau membatalkan pesanan pesawat. Dampak virus Covid-19 memiliki konsekuensi jangka panjang seperti terlihat dari yang dialami pesawat paling besar yakni Airbus A380 dan Boeing 747.

Airbus pada Selasa(17/8/2020) telah menginformasikan menghentikan produksi dan perakitan di pabrik Prancis dan Spanyol selama empat hari ke depan untuk menerapkan langkah-langkah kesehatan, termasuk pembersihan dan menjaga jarak. Sementara itu, baik perusahaan Airbus dan Boeing mengatakan mereka sedang berdiskusi dengan pemerintah tentang bantuan untuk industri penerbangan.

Sementara itu, Kepala Ekonom IATA Brian Pearce mengatakan hanya sekitar 30 maskapai penerbangan di dunia yang memiliki utang dan pendapatan cukup sehat. Bahkan operator yang lebih kuat mungkin hanya memiliki uang tunai yang cukup untuk bertahan hidup selama beberapa bulan tanpa bantuan, membuat risiko kebangkrutan menjadi cukup nyata secara jangka pendek.

Perusahaan-perusahaan pemeringkat kredit sudah mulai mengambil tindakan terhadap maskapai-maskapai Eropa. Moody's menurunkan peringkat Deutsche Lufthansa AG. Moody's juga memangkas peringkat Easyjet Plc dan sedang meninjau British Airways dan induknya IAG SA.

Sejauh ini, maskapai penerbangan utama Skandinavia SAS AB akan mendapatkan total jaminan negara 3 miliar kronor dari Swedia dan Denmark.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri penerbangan
Editor : Saeno
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top