Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

China Mulai Pulih, Bagaimana Pasokan Bahan Baku ke Indonesia?

Perekonomian dan industri China perlahan mulai pulih setelah terpukul oleh wabah virus corona. Namun demikian, kondisi itu tak serta merta dapat berdampak cepat terhadap pasokan bahan baku impor dari China ke Indonesia.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 10 Maret 2020  |  19:29 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Kegiatan produksi industri manufaktur Tanah Air yang membutuhkan bahan baku asal China diperkirakan belum bisa menikmati normalisasi pasokan dalam waktu dekat meski perekonomian Negeri Panda berlangsung pulih.

Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Subandi mengemukakan permasalahan yang terjadi di China tak hanya soal pasokan yang berkurang. Lebih dari itu, dia menyebutkan kegiatan produksi di Negeri Panda belum maksimal lantaran aktivitas tenaga kerja yang masih terbatas.

Subandi pun menyatakan terdapat hambatan logistik. Yakni terbatasnya kapal-kapal yang berlabuh di China dengan pertimbangan keamanan.

"Pemesanan barang oleh importir masih belum bisa dipenuhi secara maksimal. Misal alat kesehatan dan produk kosmetik," kata Subandi kepada Bisnis, Selasa (10/3/2020).

Pemulihan pasokan bahan baku dari China pun disebutnya memerlukan waktu yang panjang karena kegiatan produksi di negara tersebut belum sepenuhnya pulih.

Pemerintah di negara tersebut pun dinilai Subandi perlu meyakinkan para pekerja akan keamanan dalam bekerja mengingat kasus virus corona di China masih tinggi.

Di sisi lain, importir dalam negeri pun cenderung akan menunggu sampai kegiatan pengapalan menjadi normal. Subandi mengatakan terbatasnya kapal yang berlabuh di China memacu peningkatan biaya logistik yang berimbas pada makin mahalnya harga barang.

"Jika demikian maka produk justru tidak bisa bersaing dari segi harga. Pelaku usaha dalam negeri pun cenderung melihat kondisi terlebih dahulu," ujarnya.

Subandi pun memperkirakan lalu lintas perdagangan belum akan pulih dalam waktu dekat. Mengingat persebaran virus corona yang meluas, dia memperkirakan perdagangan akan pulih paling cepat pada awal 2021.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menyebutkan mulai pulihnya perekonomian China bisa menjadi hal positif bagi Indonesia yang mengimpor bahan baku dan penolong industri dari negara tersebut.

Dia menyatakan pelaku usaha telah memanfaatkan pemulihan ini dengan mengurangi dampak pengurangan pasokan di dalam negeri sehingga bisa melanjutkan operasional.

"Hal ini sudah terjadi sejak 17 Februari dan kondisinya berangsur lebih baik walaupun masih kurang dari yang kita butuhkan," kata Shinta.

Terlepas akan hal tersebut, perhatian tetap perlu diarahkan pada daerah-daerah di China yang masih menjadi sasaran kebijakan pembatasan gerak atau daerah yang dikarantina seperti Wuhan.

Shinta mengatakan impor barang elektronik tetap tidak bisa dilakukan karena diproduksi di kawasan tersebut.

"Shortage of supply masih akan terjadi pada komoditas impor asal China yang diproduksi di Wuhan dan tempat-tempat lain mengalami karantina total, sebagian atau pembatasan aktivitas," paparnya.

Seperti diketahui, menurut laporan Bloomberg, industri manufaktur China mulai kembali bergeliat dengan kapasitas 70 sampai 80 persen pada pekan lalu. Dalam hal ini, permintaan batubara untuk kebutuhan listrik industri diyakini mencapai level tertinggi sejak 21 Januari silam meski masih 20 persen lebih rendah dibandingkan permintaan pada 2019 dan 2018.

Sekitar 78 juta pekerja migran pun dilaporkan telah kembali bekerja. Jumlah ini setara dengan 60 persen dari total pekerja yang melakukan perjalanan ke provinsi asalnya untuk merayakan Tahun Baru Imlek.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china Virus Corona impor bahan baku
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top