Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kebijakan Pelarangan ODOL: Waspada Kenaikan Harga Barang di Konsumen

Selama ini para sejumlah pelaku usaha memanfaatkan fenomena ODOL sebagai salah satu upaya menekan harga jual produknya.
Dewi Aminatuz Zuhriyah
Dewi Aminatuz Zuhriyah - Bisnis.com 23 Februari 2020  |  23:46 WIB
Kebijakan Pelarangan ODOL: Waspada Kenaikan Harga Barang di Konsumen
Ilustrasi Truk. Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Kebijakan pelarangan penyebrangan bagi kendaraan atau truk dengan kelebihan muatan dan over dimensi (ODOL) akan dimulai pada 1 Mei 2020 mendatang, diperkirakan bakal berdampak pada kenaikan harga sejumlah produk di tingkat konsumen.

Ekonom INDEF Ahmad Heri Firdaus menuturkan selama ini, tarif angkut barang atau biaya logistik di Indonesia masih relatif mahal. Hal ini juga berdampak pada harga produk saat dijual di pasaran.

Sebab itu, Heri menilai banyak pelaku usaha yang menyiasatinya dengan mengoptimalkan muatan hingga overload.

“Dari sisi keamanan dan keselamatan sebenarnya cukup rentan. Jadi idealnya truk tidak overload dan biaya logistik dapat ditekan. Yang mempengaruhi biaya logistik cukup beragam mulai dari kuantitas dan kualitas infrastruktur konektivitas,” kata Heri, Minggu (23/2/2020).

Menurutnya, selama ini infrastruktur yang dibangun belum memberikan dampak besar terhadap penurunan biaya logistik.  Hal itu membuat harga produk yang sebelumnya dikirim menggunakan kendaraan yang mengaplikasikan ODOL, menjadi lebih mahal ketika ketentuan pelarangan ODOL diberlakukan.

“Jadi kebutuhan pembangunan infrastruktur perlu dikorelasikan dan memperhatikan permasalahan logistic cost,” katanya. 

Sementara itu, bagi pengusaha tekstil, pelarangan tersebut tidak memberikan dampak terhadap industrinya. Sekertaris Eksekutif API Rizal Tanzil Rakhman menuturkan ini karena industri tekstil lebih menggunakan kapal ekspor dan bukan kapal roro.

“Dari tekstil gak terlalu berpengaruh karena truk kita dari pabrik langsung ke pelabuhan, gak pakai kapal roro menyebrang. Jadi praktis dari truk peti kemas langsung naik ke kapal-ekspor,” kata Rizal, Minggu (23/2/2020).

Dalam hal ini dia mengatakan selama ini perdagangan produk tektil antar pulau jauh lebih sedikit dibandingkan untuk ekspor. Apalagi, rata-rata pabrik tekstil ada di Jawa yang notabene tempat industri pakaian jadi.

“Perdagangan antar pulau untuk tekstil sedikit karena rata-rata pabrik tekstil ada di Jawa.”

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Truk ODOL harga barang
Editor : Yustinus Andri DP

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top