Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pak Jokowi Harus Tahu, Ada Perusahaan Migas Indonesia Nongkrong di Wall Street

Indonesia Energy Corporation Limited (IEC), perusahaan pengelola tiga wilayah kerja migas yang percaya diri melantai di bursa saham terbesar di dunia, The New York Stock Exchange (NYSE).
David Eka Issetiabudi
David Eka Issetiabudi - Bisnis.com 19 Februari 2020  |  12:16 WIB
Caption: Saham Corteva, Inc (NYSE: CTVA) resmi diperdagangkan di bursa saham New York Stock Exchange pada Senin (3/6) waktu setempat. Corteva Agriscience resmi menjadi perusahaan mandiri setelah memisahkan diri dari DowDupont pada 1 Juni 2019. - Bisnis/Riendy Astria
Caption: Saham Corteva, Inc (NYSE: CTVA) resmi diperdagangkan di bursa saham New York Stock Exchange pada Senin (3/6) waktu setempat. Corteva Agriscience resmi menjadi perusahaan mandiri setelah memisahkan diri dari DowDupont pada 1 Juni 2019. - Bisnis/Riendy Astria

Bisnis.com, JAKARTA - Citra investasi hulu minyak dan gas Indonesia belum pudar. Kepercayaan diri perusahana migas melantai di bursa saham menjadi bukti nyata bahwa bisnis ini tidak berada dalam sunset industry.

Hal ini dibuktikan oleh Indonesia Energy Corporation Limited (IEC), perusahaan pengelola tiga wilayah kerja migas yang percaya diri melantai di bursa saham terbesar di dunia, The New York Stock Exchange (NYSE).

Memang perusahaan ini jarang nongol dalam pemberitaan migas nasional, tapi siapa sangka perusahaan dengan dengan kode “INDO” di lantai bursa saham New York yang memulai perdagangan 19 Desember 2020. IEC telah menyelesaikan penawaran saham perdana atau IPO pada 14 Februari lalu.

Berdasarkan informasi perusahaan, IEC mengelola tiga blok migas yakni Blok Citarum, Blok Kruh dan Blok Rangkas. Khusus blok Rangkas, IEC bersama dengan pemerintah fokus mengidentifikasi stratigrafi dan geologi struktural di daerah tersebut.

Jika joint study ini berhasil, maka IEC mendapatkan hak lelang langsung dari Kementerian ESDM untuk mengelola blok Rangkas.

Untuk wilayah kerja yang telah berproduksi adalah blok Kruh dan Citarum.  Blok Kruh di tercatat menghasilkan minyak sebesar 9.900 barel per bulan pada 2018.

Dari delapan struktur yang terbukti memiliki potensi minyak, ada tiga struktur yang memiliki cadangan terbukti minyak yang belum dikembangkan sebesar 4,99 juta barel dan potensi cadangan minyak mentah yang belum dikembangkan masih ada 2,59 juta barel per 1 Januari 2019.

Dalam jangka pendek Indonesia Energy akan meningkatkan produksi blok ini dengan mengebor 18 sumur baru, dan meningkatkan cadangan dengan survei seismik.

Di blok minyak ini, IEC memegang 100 persen hak partisipasi (PI) dan beroperasi di bawah kontrak bantuan teknis (Techincal Assitance Contract/TAC) Pertamina hingga Mei 2020. Sementara itu, operatorship blok Kruk akan berlanjut dengan skema KSO hingga 2030.

Di wilayah kerja lainnya, yakni blok Citarum, Indonesia Energy menjadi operator dengan skema kontrak Gross Split hingga Juli 2048. Indonesia Energy Corporation setidaknya telah menginvestasikan US$40 juta di blok Citarum.

Sebelumnya, dalam lelang blok migas oleh Kementerian ESDM, pemenang blok Citarum sempat berpindah tangan dari pemenang lelang blok. Awalnya, pemenang lelang Blok Citarum adalah konsorsium PT Cogen Nusantara Energi dan PT Green World Nusantara.

Hanya saja, saat penandantangan kontrak PT Green World Nusantara mundur. Alhasil, komposisi konsorsium menjadi PT Cogen Nusantara Energi dan PT Hutama Wiranusa Energi.

Dalam keterangan resmi perusahaan, CEO Indonesia Energy Corporation Ltd., Wirawan Jusuf mengaku terhormat dapat memulai perjalanan baru sebagai perusahaan publik di Bursa Efek New York yang ikonik.

"Kami menantikan perjalanan ke depan dan melaksanakan rencana bisnis  untuk menumbuhkan produksi [migas] dan memberikan nilai [untuk] pemegang saham," tuturnya dalam siaran pers yang diunggah di situs resmi IEC.

Terpisah, Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional Djoko Siswanto mengaku bangga atas capaian IEC di Wall Street. Kepada Bisnis, dia mengatakan kebanggaan tersebut cukup mendasar karena akhirnya bendera Merah Putih kembali berkibar berdampingan dengan bendera Amerika Serikat di New York Stock Exchange.

"Ini juga perusahaan migas Indonesia yang pertama bisa melantai di bursa efek New York," katanya.

Mantan Dirjen Migas ini pun mendorong perusahaan migas lain untuk mengikuti langkah IEC. Secara tidak langsung, investasi di bidang migas akan masuk dan mendorong aktivitas eksplorasi dan eksploitasi.

"Semoga investasi bidang energi ini terus masuk mengalir untuk kegiatan investasi eksplorasi dan eksploitasi di Indonesia dan juga dapat diikuti oleh perusahaan lainnya," tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa migas
Editor : David Eka Issetiabudi
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top