Dampak Virus Corona, Slot Penerbangan Nganggur Dioptimalkan

Pembatalan penerbangan dari dan ke China akibat virus Corona membuat slot penerbangan banyak yang tidak terpakai.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 13 Februari 2020  |  13:18 WIB
Dampak Virus Corona, Slot Penerbangan Nganggur Dioptimalkan
Pesawat udara berada di kawasan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Jumat (8/3/2019). - ANTARA/Fikri Yusuf

Bisnis.com, JAKARTA - BUMN pengelola bandara kompak mengoptimalkan slot penerbangan tidak terpakai (idle), yang sebelumnya digunakan maskapai China, agar bisa dimanfaatkan oleh maskapai lain.

Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero) Faik Fahmi mengatakan slot penerbangan ke Bandara I Gusti Ngurah Rai Denpasar banyak diminati oleh maskapai. Permohonan penambahan frekuensi penerbangan yang sudah diajukan akan menjadi prioritas.

“Di [bandara] Bali take off-landing per jam sebanyak 30 penerbangan, bisa kami tingkatkan menjadi 32 penerbangan,” katanya, Kamis (13/2/2020).

Senada, Direktur Utama PT Angkasa Pura II (Persero) Muhammad Awaluddin menjelaskan Bandara Soekarno-Hatta memiliki 20 hingga 25 slot penerbangan per hari yang kosong dan bisa dimanfaatkan oleh maskapai lain.

Sementara itu, pemerintah juga mencari cara dalam mengisi slot-slot kosong yang selama ini digunakan oleh maskapai dari China. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi akan memberikan insentif berupa keringanan biaya izin slot, izin rute, dan izin penerbangan dengan persetujuan Menteri Keuangan.

“Ini kesempatan kita semua untuk berkolaborasi, sebagai contoh Bali, banyak maskapai dari Eropa Timur yang ingin terbang tetapi masalahnya selama ini adalah ketidaktersediaan slot. Oleh sebab itu kami melihat peluang di mana saja negara yang antusias untuk pergi ke Indonesia,” jelasnya, Kamis (13/2/2020).

Sementara itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio mendorong maskapai segera mengisi kekosongan slot penerbangan di sejumlah bandara tanah air menyusul keputusan pemerintah menutup penerbangan dari dan ke China sejak 5 Februari 2020.

Menurutnya, travel warning dan larangan penerbangan terkait penyebaran virus Corona berdampak buruk terhadap industri penerbangan dan juga pariwisata.

“Semua orang terdampak karena masalah ini, kami sama-sama mendengarkan, menerima masukan dan mencari solusi. Bagaimana kita dapat melihat opportunity ke depan," kata Wishnutama.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Rio Sandy Pradana
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top