Tekanan Kinerja Ekspor Indutri Kayu Masih Berlanjut

Kinerja ekspor industri kayu pada tahun ini diprediksi tidak jauh berbeda dengan 2019, yakni sebesar US$2 miliar.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 12 Februari 2020  |  00:21 WIB
Tekanan Kinerja Ekspor Indutri Kayu Masih Berlanjut
Panel kayu dan kayu olahan - Ilustrasi/kemenperin.go.id

Bisnis.com, JAKARTA - Indonesia Sawmill and Woodworking Association (ISWA) pesimistis performa ekspor industri kayu pada tahun ini akan membaik seiring dengan pengguna kayu global yang belum menaikkan harga produk jadi, sementara biaya produksi on farm terus menanjak.

Ketua Umum ISWA Soewarni menargetkan kinerja ekspor industri kayu pada tahun ini tidak jauh berbeda dengan 2019, yakni sebesar US$2 miliar. 

"Sementara ini, kondisinnya [pasar kayu global] masih belum menentu. Tidak hanya woodworking, hampir  semua industri kayu sama," katanya kepada Bisnis, Selasa (11/2/2020).

Seperti diketahui, nilai ekspor kayu pada tahun lalu gagal mencapai target dan turun tipis menjadi sekitar US$1,85 miliar. Adapun, penanaman modal asing (PMA) ke industri kayu anjlok 65,57% dari US$276 juta pada 2018 menjadi US$95 juta.

Dia menambahkan ada beberapa peraturan yang harus direvisi maupun disederhanakan agar performa ekspor meningkat. Menurutnya, dengan kondisi permintaan kayu di pasar global yang stagnan, perubahan peraturan menjadi kunci penggerak ekspor kayu nasional.

Pihaknya mengaku akan melakukan tiga hal untuk meningkatkan daya saing kayu lokal di pasar global. Pertama, pengeluaran kayu bundar dari daftar barang kena Pajak Pertambahan Nilai (PPn).

Menurutnya, penghilangan tersebut akan meringankan biaya produksi secara signifikan. Pasalnya, biaya PPn berkontribusi hingga 30% dari total biaya produksi.

Kedua, menyederhanakan regulasi di tingkat daerah dan keperluan ekspor. Ketiga, menurunkan kredit investasi sektor perbankan.

Soewarni menyatakan daya saing kayu lokal saat ini lebih rendah dari kayu asal China dan Taiwan. Menurutnya, salah satu penyebabnya merupakan biaya kredit domestik yang dua kali lebih tinggi. 

"Tidak kompetitif karena biaya kredit terlalu tinggi. di China dan Taiwan 4-5 persen, kita 10%. Kita juga berjuang untuk kredit investasi diturunkan [bunganya], tapi itupun belum berhasil. Masih banyak kendala," jelasnya.

Terpisah, Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Abdul Rochim optimistis performa ekspor kayu pada tahun ini dapat lebih besar dari US$2 miliar. Pasalnya, lanjutnya, kementerian akan mulai menyerap pangsa pasar China di Amerika Serikat yang terbengkalai akibat perang dagang pada tahun ini.

Pihaknya telah menyertakan berkas terkait pengeluaran kayu dari daftar PPn kepada Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Saat ini masih menunggu persetujuan tersebut.

Dari sisi investasi, Rochim menjelaskan bahwa sebagian besar investor asing wait and see lantaran ada pesta demokrasi empat tahunan. Adapun,, dana yang tertahan tersebut akan mulai ditanamkan pada tahun ini, sehingga diharapkan penyerapan investasi ke industri kayu akan kembali tumbuh organik.

"Bersama BKPM [Badan Koordinasi Penanaman Modal], kami menarik investasi dari [pabrikan] yang ekspornya dari China ke Amerika Serikat besar. Kita harusnya bisa memanfaatkan [pangsa] ekspor China [ke Amerika Serikat] karena ada perang dagang," katanya kepada Bisnis.com

Sebelumnya, Pengurus Bidang Pemasaran dan Hubungan Internasional Asosiasi Panel Kayu Indonesia (Apkindo) Gunawan Salim menjelaskan secara umum industri panel kayu belum dapat memanfaatkan eskalasi perang dagang antara Amerika Serikat dan China sampai saat ini.

Pasalnya, jenis plywood yang dibutuhkan Negeri Paman Sam adalah berjenis lunak, sedangkan yang diproduksi di dalam negeri adalah keras.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri, kemenperin

Editor : Rio Sandy Pradana
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top