Dampak Virus Corona Dirasakan Peritel Di Daerah Wisata

Para peritel modern yang beroperasi di daerah yang menjadi destinasi wisata favorit wisatawan asal China, mengaku terdampak oleh penutupan rute penerbangan dari Negeri Panda tersebut.
Dewi Aminatuz Zuhriyah
Dewi Aminatuz Zuhriyah - Bisnis.com 12 Februari 2020  |  19:58 WIB
Dampak Virus Corona Dirasakan Peritel Di Daerah Wisata
Jaringan ritel di Bali Hardys dinyatakan pailit. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku usaha ritel nasional yang tersebar di daerah destinasi wisata mengaku terganggu oleh fenomena wabah virus corona yang berdampak pada penutupan rute penerbangan ke China.

Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mande menuturkan para peritel di kawasan destinasi wisata seperti Jakarta, Bali dan Manado cukup terpengaruh oleh wabah virus corona. Pasalnya, di daerah-daerah tersebut mengalami penurunan wisatawan mancanegara yang cukup signifikan, terutama wisman dari China.

“Jadi dari sisi transaksi sangat berdampak. Seperti daerah yang punya kunjungan wisman China dengan jumlah yang besar seperti di Manado, Bali kemudian Jakarta dan lainya. Nah dampak transaksi inilah yang kita beri catatan dan perhatian khusus akibat dari virus corona. Nilainya memang belum kami dapatkan tapi mereka bawa mata uang asing yang lebih kuat dari rupiah kita,” katanya ketika dihubungi Bisnis, Rabu (12/2/2020).

Kendati demikian secara umum dampak virus corona tidak begitu besar. Hal itu disebabkan karena banyak ritel modern yang produk jualannya didominasi oleh barang-barang domestik.

Kalau dari sisi pasokan barang, yang kena dampak itu paling yang berjualan produk yang berkaitan dengan buah-buahan, beberapa yang berkaitan dengan bawang putih yang memang pasokan domestik kita sedikit,” katanya.

Sementara itu ekonom Indef Rusli Abdullah pelarangan penerbangan dari dan ke China akibat virus corona jelas berdampak pada pengusaha industri ritel khususnya terhadap ketersediaan stok barang.

“Kondisi tersebut benar adanya menjadi ancaman. Hal ini disebabkan impor Indonesia dari China 40 persennya merupakan barang-barang mesin [kode HS 84 dan 85], katanya.

Untuk itu, dia menyarankan pemerintah bersama-sama dengan pengusaha duduk bersama untuk mencari barang substitusi impor dari China dengan mengandalkan produksi domestik atau negara lain semisal Vietnam, Thailand dan Taiwan.

“Produksi dalam negeri sebetulnya memadai, tapi tidak bisa dalam waktu singkat pun memadai, harga pasti mahal karena indsutri kita yang jauh tertinggal kompetitifnya dibandingkan China, ujarnya.

Menurutnya mitigasi yang perlu dilakukan adalah dengan memprioritaskan barang-barang yang memang diperlukan.

“Kalau dari China tidak ada, cari dari negara lain dan juga domestik, plus skala prioritas. Misal, kalau kita butuh cangkul, gak perlu sampai harus impor. Justru wabah ini menjadi momentum untuk mengembangkan indutri domestik kita, jelasnya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ritel modern, virus corona

Editor : Yustinus Andri DP
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top