Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Subsidi Distribusi Bahan Pangan Lewat Udara Dibutuhkan

Pemerintah dapat menjalankan skema subsidi terhadap distribusi pangan yang dilakukan menggunakan jalur udara. Dengan demikian, margin harga antara produsen dan konsumen pun bisa diperkecil.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 04 Februari 2020  |  18:29 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA — Rencana pemerintah untuk memanfaatkan distribusi jalur udara guna mencapai efektivitas pasokan bahan pangan perlu segera direalisasikan. Namun kebijakan itu perlu diperkuat dengan subsidi dari pemerintah.

Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri menilai distribusi melalui udara disebut bisa menekan penyusutan sejumlah komoditas yang rentan rusak dalam proses pengiriman.

Di sisi lain menurutnya, rantai pasok yang panjang merupakan salah satu faktor yang memicu fluktuasi harga. Selain itu, tak seimbangnya permintaan dan produksi di daerah dengan tingkat konsumsi tinggi disebut Abdullah semakin memacu kenaikan harga.

"Sebenarnya persoalannya adalah produksi yang tidak mencukupi. Kalau cukup saya kira tidak ada gejolak di lapangan," kata Abdullah kepada Bisnis, Selasa (4/2/2020).

Dia memberi contoh pada tak seimbangnya konsumsi antara wilayah padat seperti Jabodetabek dan sentra produksi seperti Jawa Timur. Hal ini setidaknya terlihat dari harga cabai di wilayah Jabodetabek yang bisa 80 persen lebih tinggi dari wilayah produksi.

Oleh karena itu, dia pun mengharapkan pemerintah dapat menjalankan skema subsidi distribusi. Dengan demikian, margin harga antara produsen dan konsumen pun bisa diperkecil.

"Kalau ada distribusi lewat udara sah-sah saja asalkan ada tambahan solusi berupa subsidi distribusi. Distribusi dibantu pemerintah agar pembiayaan tidak terlalu besar. Contohnya cabai, rantai distribusi sangat panjang mulai dari petani ke pengepul dan masih didistribusi ke pasar induk baru ke pasar lokal dan pedagang eceran," jelasnya.

Berdasarkan prognosis Badan Ketahanan Pangan (BKP), produksi untuk cabai jenis rawit selama Januari dan Februari diperkirakan lebih rendah dibandingkan Desember dengan volume masing-masing sebesar 82.998 ton dan 80.055 ton.

Kendati demikian, tingkat kebutuhan pada periode ini diperkirakan tetap berada di bawah pasokan yakni sekitar 77.685 ton per bulannya. Dengan demikian, potensi surplus cabai sendiri sejatinya mencapai 27.888 ton selama Januari sampai Februari.

Sebelumnya, masalah distribusi dan kendala cuaca pada awal tahun dinilai menjadi penyebab utama kenaikan harga bahan pokok, terutama pada produk hortikultura.

Sementara berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), cabai merupakan salah satu komoditas dengan rantai pasok yang panjang. Margin harga antara produsen dan konsumen untuk cabai merah pun tercatat mencapai 43,09 persen, tertinggi di antara komoditas pangan strategis lainnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

distribusi pangan pengiriman barang harga pangan
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top