Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Akhir Tahun: Proses Distribusi Bisa Jadi Kendala

Pemerintah  perlu mengantisipasi gangguan pasokan pada barang kebutuhan pokok dan penting (bapokting) saat Natal dan Tahun Baru (Nataru) akibat proses distribusinya.
Yustinus Andri DP
Yustinus Andri DP - Bisnis.com 18 November 2019  |  14:04 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah  perlu mengantisipasi gangguan pasokan pada barang kebutuhan pokok dan penting (bapokting) saat Natal dan Tahun Baru (Nataru) akibat proses distribusinya.

Ketua Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri mengatakan harga sejumlah bapokting hampir dipastikan mengalami kenaikan pada periode Nataru tiap tahunnya.

Namun, menurutnya, kenaikan harga yang lebih tinggi atau bergejolak dapat terjadi lantaran adanya gangguan saat proses distribusi dari produsen ke pedagang dan konsumen.

“Berkaca pada kejadian tahun lalu, harga cabai dan bawang merah meroket, terutama di DKI Jakarta. Sebab ada gangguan saat proses pengiriman dari daerah produsen karena banjir di beberapa ruas jalan rute pengiriman. Kondisi itu bisa terjadi lagi pada tahun ini,” katanya ketika dihubungi Bisnis.com, belum lama ini.

Menurutnya, komoditas yang rawan mengalami lonjakan harga akibat gangguan proses distribusi a.l. cabai, bawang merah, sayur-sayuran dan buah-buahan.

Komoditas tersebut merupakan produk yang cepat busuk dan mudah terpengaruh apabila terdapat keterlambatan proses pengiriman. Di sisi lain, Indonesia belum banyak memiliki gudang penyimpanan yang mumpuni untuk menyimpang komoditas yang cepat busuk.

Untuk itu, dia meminta adanya pengamanan pasokan bapokting menuju DKI Jakarta dan sekitarnya. Pasalnya, daerah tersebut menyumbang hampir 45% dari total permintaan  bapokting nasional.

Terlebih, lanjutnya, pemerintah telah mengklaim ketersediaan sejumlah komoditas bapokting berada pada level yang aman hingga akhir tahun ini.

“Kalau klaimnya pemerintah produksi dari produsen sudah aman. Maka yang dibutuhkan saat ini adalah pengamanan proses distribusi. Hal ini sering kali dilupakan oleh pemerintah, ” katanya.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pedagang Pasar Indonesia (APPI) Maulana mengamini adanya potensi gejolak harga akibat terhambatnya proses distribusi komoditas untuk periode Nataru. Mengingat pada Desember, curah hujan diperkirakan akan mengalami kenaikan yang signifikan.

Dia meminta kepada pemerintah memperkuat koordinasi antarpengambil kebijakan untuk mengamankan proses distribusi. Selain itu dia juga mengharapkan pemerintah menambah opsi distribusi komoditas yang cepat rusak selain melalui jalan raya menggunakan truk.

 “Pengiriman barang-barang tersebut bisa memanfaatkan angkutan menggunakan  kereta api yang relatif lebih aman dari ancaman banjir maupun pembusukan saat pengiriman karena terpapar hujan,” jelasnya.

Selain itu, dia menilai penyiapan skema pengalihan pasokan dari daerah yang terganggu produksi dan pengirimannya harus disiapkan dari jauh-jauh hari.

Pasalnya, pasokan bapokting acap kali terganggu lantaran daerah produsen mengalami gangguan proses panen, ketika permintaan saat Nataru mengalami lonjakan.

“Hambatan dari sisi cuaca sangat sulit ditebak. Bisa saja tiba-tiba daerah produsen komoditas tertentu gagal panen karena curah hujan terlalu tinggi. Maka dari itu harus segera dipetakan sejak dini, daerah-daerah yang bisa dijadikan pengganti atau penopang pasokan bapokting, ketika satu daerah produsen utama terganggu produksinya,” jelasnya.

Ekonom Indef Rusli Abdullah mengatakan strategi yang berbeda perlu diterapkan pemerintah dalam mengantisipasi gejolak harga bapokting pada periode Nataru dibandingkan dengan Lebaran. Pasalnya, pada periode Nataru, gangguan akan datang dari kondisi cuaca.

“Tidak hanya produk yang cepat busuk seperti bawang merah dan cabai, beras pun juga rawan mengalami lonjakan harga. Sebab stok di petani kami perkirakan bakal makin menipis pada akhir tahun ini. Belum lagi jika nanti kualitas beras menjadi turun karena terganggu hujan sehingga pasokan beras yang layak makan menjadi terbatas,” jelasnya.

Di sisi lain Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Suhanto mengakui adanya potensi kendala dari sisi proses distribusi akibat gangguan cuaca.

Untuk itu dia mengaku akan berkoordinasi dengan para distributor bapokting untuk menyiapkan skema pengalihan pasokan ketika terjadi gangguan saat pengiriman.

“Selain bekerja sama dengan kementerian dan lembaga serta pemerintah daerah, kami juga akan perkuat koordinasi dengan pelaku usaha, termasuk distributor. Kami akan pantau tiap saat kondisi pasokan dan stok barang saat Nataru, terutama untuk kawasan DKI Jakarta. Kami tidak ingin kecolongan,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga pangan
Editor : Wike Dita Herlinda
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top