Bisnis, JAKARTA – Indonesia selama ini dinilai sebagai surga bagi para wisatawan. Namun di sejumlah hal justru membuat para wisatawan merasa frustasi ketika merencanakan maupun berwisata di Indonesia.
Berdasarkan survei dan laporan dari Travelport, para wisatawan di Indonesia paling rawan mengalami frustasi ketika gagal mengakses informasi pemesanan paket pariwisata melalui gawainya. Persentase tingkat frustasi wisatawan di Indonesia tersebut meningkat 9% pada 2018.
Persentase tingkat frustasi wisatawan Indonesia terhadap kegagalan mengakses informasi perjalanan wisata tersebut mencapai 67%, lebih tinggi dari rata-rata persentase secara global sebesar 45%. Rasa frustasi ini didominasi oleh kelompok masyarakat generasi X sebanyak 73 persen dan generasi Y sebanyak 67 persen.
Tingkat frustasi juga dijumpai oleh wisatawan Indonesia dalam berbelanja melalui platform daring. Pada 2019, sebanyak 59% wisatawan Indonesia frustasi untuk mencari perusahaan dagang elektronik (dagang-el) yang dapat dipercaya. Persentase itu naik 21% dari tahun 2018.
“Mereka juga merasa frustasi karena tidak mengetahui apakah ulasan online dapat dipercaya atau tidak.” tulis Travelport dalam laporannya, seperti dikutip Bisnis, Kamis (30/1/2020).
Di samping itu para wisatawan juga merasa kecewa ketiga gagal mempersonalisasi pengalaman pribadinya. Wisatawan mengaku kesulitan karena tidak dapat apa saja paket perjalanan yang masuk dalam kategori standar. Hal ini dialami oleh 61 persen wisatawan Indonesia pada 2019, naik 40 persen dari 2018.
Baca Juga
Kondisi serupa juga dialami oleh wisatawan Indonesia ketika mengakses informasi paket ekstra dalam paket perjalanannya. Hal yang tidak menyenangkan itu dialami oleh 63% wisatawan Indonesia pada 2019.
“Para wisatawan mengharapkan pengalaman sederhana dan menyenangkan dari penyedia jasa pariwisata, sebagiamana mereka dapatkan dari penyedia jasa lainnya,” kata Direktur Regional Asia-Pasific Teritori Operasi Travelport Gary Harford dalam siaran pers yang diterima Bisnis (30/1/2020).