Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pasar Co-Living Terkonsentrasi di Jabodetabek

Konsentrasi perkembangan co-living di Jakarta dan sekitarnya masih akan berlangsung sampai beberapa tahun ke depan.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 23 Januari 2020  |  15:19 WIB
ilustrasi penghuni coliving - istimewa
ilustrasi penghuni coliving - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Hunian bersama dengan konsep co-living makin populer di Indonesia. Walaupun sudah mulai berkembang di beberapa daerah selain Jabodetabek, seperti di Bali, kebanyakan penyedia co-living masih fokus menyediakan jasanya di Jakarta.

Kini, selain di Bali, konsep co-living atau berbagi tempat tinggal sudah mulai berkembang ke daerah lain yang membidik pasar milenial dan profesional muda yang mencari hunian nyaman dekat dengan tempat kerja.

Dengan Jakarta yang masih menjadi pusat bisnis dan lokasi utama orang mencari kerja dari seluruh penjuru Indonesia, Senior Associate Director Residential Tenant Representation Colliers International Indonesia Lenny Sinaga mengatakan bahwa Jakarta masih menjadi pilihan utama bagi pencari co-living, terutama untuk pasar lokal.

“Menurut saya, co-living akan tetap berkonsentrasi di Jabodetabek karena koneksi dengan kualitas hidup, bisnis, hiburan, komunitas, dan lainnya yang berkaitan dengan gaya hidup generasi milenial, sampai saat ini masih kuat di sana,” ungkapnya kepada Bisnis, Kamis (23/1/2020).

Adapun, konsentrasi perkembangan co-living di Jakarta dan sekitarnya juga dinilai Lenny masih akan berlangsung sampai beberapa tahun ke depan.

Pasalnya, co-living umumnya membanderol dengan harga lebih premium dan baru bisa dijangkau oleh orang-orang yang bekerja di kota besar dan perusahaan besar.

Dengan masih lekatnya pandangan kebanyakan orang pada konsep co-living dengan indekos, penyedia jasa co-living harus melakukan beberapa hal agar bisa membedakan properti co-living-nya dengan indekos.

“Yang perlu dilakukan, menurut saya, properti co-living-nya harus terlihat lebih simpel dan modern, menawarkan high quality community, misalnya, karena diisi oleh profesional muda sehingga penghuni bisa saling bertukar pikiran, menyediakan tempat bekerja, fasilitas lengkap, dan akses transportasi mudah seperti ke MRT [moda raya terpadu], misalnya,” lanjutnya.

Kemudian, dengan harga sewa apartemen di tengah kota yang sudah makin mahal, Lenny yakin properti co-living akan makin berkembang, terutama karena generasi milenial umumnya mencari hunian yang pembayarannya lebih hemat dan mudah, bisa mingguan atau bulanan dan bisa berbagi hunian dengan orang lain.

Adapun, co-living yang biasanya dipatok dengan harga Rp1 juta—Rp3 juta per bulan tergantung pada fasilitas dan lokasi dan dengan keleluasaan untuk bisa tinggal bersama teman atau kerabat.

Pada akhirnya, co-living bisa jadi pilihan lantaran biaya tersebut juga bisa ditanggung bersama sehingga lebih hemat.

Co-living di Indonesia sendiri masih lebih dikenal dengan indekos, padahal hunian konsep co-living mempunyai beberapa perbedaan, seperti dari segi fasilitasnya, komunitas yang bisa terbentuk di dalamnya, dan kenyamanan yang ditawarkan. Co-living bagai indekos dalam versi lebih baik dan lebih terasa profesional.

Co-living pertama di Indonesia memang berawal di Ubud, Bali, yakni Roam yang sudah mulai beroperasi sejak 2015 lalu. Penghuninya umumnya berasal dari kalangan perantau, penulis, dan pekerja kreatif dan merupakan warga negara asing.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

apartemen coliving
Editor : Zufrizal

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper

BisnisRegional

To top