Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Permintaan Co-Living di Jakarta Makin Banyak

Milenial umumnya mencari sesuatu yang menawarkan fleksibilitas, begitu pula dengan pemilihan tempat tinggal.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 20 Januari 2020  |  17:19 WIB
ilustrasi penghuni coliving - istimewa
ilustrasi penghuni coliving - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Sebagai pusat bisnis Indonesia, Jakarta masih menjadi tujuan utama yang menarik banyak orang untuk mencari peruntungan dan mengejar karier oleh kebanyakan orang Indonesia. Hal ini membuat bisnis co-living di Indonesia masih terkonsentrasi di Jakarta.

Jakarta dengan populasi 10 juta orang dan 3 juta di antaranya adalah milenial, membuat lebih banyak orang yang mencari hunian murah bahkan menyewa atau mengontrak, apa pun selama punya tempat tinggal sendiri.

Ditambah dengan penduduk yang ada di sekitarnya, Bodetabek (Bogor, Depok Tangerang, dan Bekasi) membuat makin banyak orang yang berlalu lalang di Jakarta, baik menggunakan transportasi umum maupun kendaraan pribadi.

Bersamaan dengan perkembangan ruang kerja fleksibel atau co-working space, makin besar pula kesempatan hunian berkonsep co-living untuk berkembang. Milenial umumnya mencari sesuatu yang menawarkan fleksibilitas, begitu pula dengan pemilihan tempat tinggal.

Berdasarkan riset Savills, permintaan akan hunian atau akomodasi yang menawarkan kebebasan dan keluwesan, serta menawarkan pengalaman baru dan kenyamanan makin meningkat. Dengan model tersebut pula permintaan co-living di Jakarta juga meningkat.

Beberapa co-living di Jakarta kebanyakan baru dibuka pada 2019. Proyek pertama yang ada di Jakarta adalah CoHaus yang mulai dikembangkan dan dibangun pada 2017. Hunian co-living tersebut menawarkan tempat untuk ditinggali dalam jangka pendek mulai dari sepekan, hingga jangka panjang 3 bulan—6 bulan.

“Banyak penyedia co-living memilih untuk menaruh konsep co-living di apartemen, tapi ada juga yang di rumah tapak yang bertingkat dengan tetap menawarkan keuntungan seperti akses ke berbagai fasilitas seperti yang ada di apartemen,” kata Director Research Savills Indonesia Anton Sitorus dalam laporan tertulis yang dikutip Bisnis, Senin (20/1/2020).

Akan tetapi, bagi penyedia jasa co-living yang menggunakan rumah tapak umumnya akan membuat harganya lebih mahal lantaran akan memerlukan area lebih besar untuk dibangun.

Kemudian, Savills mencatat kebanyakan co-living di Jakarta berlokasi di sekitar pusat bisnis (central business district/CBD) seperti di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan dengan dominasi berada di apartemen.

Penyedia hunian co-living di apartemen umumnya menawarkan harga sewa yang lebih rendah dan dengan kemudahan dan kenyamanan yang lebih banyak dibandingkan dengan sewa apartemen biasa.

“Biaya sewa yang ditawarkan biasanya sudah termasuk pengisian furnitur, perawatan bangunan, utilitas kecuali listrik, sampai termasuk biaya bersih-bersih. Namun, biayanya memang akan berbeda di masing-masing penyedia co-living,” ujar Anton.

Savills mencatat harga sewa yang ditawarkan penyedia co-living berkisar Rp3 juta per bulan untuk hunian ukuran studio hingga Rp30 juta per bulan untuk menyewa satu unit besar dan lengkap, ditambah dengan deposit uang sewa selama satu bulan.

Adapun, kebanyakan penyedia co-living juga akan memberi potongan harga seperti gratis biaya sewa sebulan untuk penyewa jangka panjang atau paket bundling dengan penyedia jasa co-working space yang dikelola oleh penyedia jasa yang sama.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hunian coliving
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top