Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Peningkatan Ekspor Rempah Perlu Peta Jalan yang Panjang

Kalangan eksportir rempah dalam negeri menyatakan Indonesia perlu meningkatkan daya saing dari segi hulu sampai hilir untuk menggenjot peningkatan ekspor sebanyak tiga kali lipat dalam 5 tahun ke depan.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 15 Januari 2020  |  16:43 WIB
Petani memperlihatka biji lada yang sudah dipanen di Desa Batu Pannu, Mamuju, Sulawesi Barat, Jumat (14/12/2018). - ANTARA/Akbar Tado
Petani memperlihatka biji lada yang sudah dipanen di Desa Batu Pannu, Mamuju, Sulawesi Barat, Jumat (14/12/2018). - ANTARA/Akbar Tado

Bisnis.com, JAKARTA – Kalangan eksportir rempah dalam negeri menyatakan Indonesia perlu meningkatkan daya saing dari segi hulu sampai hilir untuk menggenjot peningkatan ekspor sebanyak tiga kali lipat dalam 5 tahun ke depan.

Direktur PT Alam Sari Buana Sigit Ismaryanto menyebutkan bahwa mayoritas tanaman perkebunan, khususnya komoditas ekspor, telah berusia tua dengan produktivitas yang menurun. Menurutnya, peremajaan menjadi kebutuhan demi meningkatkan produktivitas.

"Salah satu hal yang membuat produk kita kalah saing adalah produktivitas yang rendah. Hal ini berimbas pada biaya produksi di petani kita yang kalah bersaing dengan negara eksportir lainnya," ujar Sigit kepada Bisnis, Selasa (14/1/2019).

Hal ini setidaknya terlihat dari harga jual lada asal Vietnam yang bisa lebih murah dibandingkan lada Indonesia. Produksi lada asal negara tersebut tercatat mencapai 2 ton per hektare (ha) per tahun, dua kali lebih tinggi dibandingkan produktivitas lada di Tanah Air yang berkisar di angka 800 kilogram per ha per tahun.

Melalui peremajaan pada tanaman usia tua, produksi rempah Indonesia disebutnya bisa mengejar efisiensi produksi dan bersaing di kancah global. Kendati demikian, dia berpendapat hal tersebut membutuhkan waktu yang panjang, tak hanya 5 tahun sebagaimana peta jalan yang disampaikan Direktorat Jenderal Perkebunan.

"Kita tahu sendiri tanaman perkebunan perlu waktu bertahun-tahun untuk mencapai produktivitas optimalnya, saya kira perlu waktu lebih panjang," ujarnya.

Selain pembenahan dari segi produksi, dia pun mengharapkan pemerintah dapat memberi dukungan bagi pelaku usaha yang terlibat di berbagai lini. Hal lain yang mengakibatkan besarnya biaya produksi rempah Indonesia disebutnya mencakup rantai pasok yang panjang dan besarnya biaya transportasi.

"Memang sudah ada program tol laut, ini cukup membantu. Tapi, dari rantai pasok masih panjang. Perlu ada dukungan untuk petani sampai ke manufaktur dan eksportir. Biaya logistik domestik bahkan lebih besar dibanding biaya ekspor," tambah Sigit.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rempah ekspor
Editor : Lucky Leonard
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top