Neraca Dagang Desember 2019 Alami Defisit Tipis US$28,2 Juta

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, defisit tersebut terjadi seiring dengan nilai impor Desember 2019 yang mencapai US$14,50 miliar dibandingkan dengan kinerja nilai ekspor Desember 2019 yang mencapai US$14,47 miliar.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 15 Januari 2020  |  11:22 WIB
Neraca Dagang Desember 2019 Alami Defisit Tipis US$28,2 Juta
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja neraca perdagangan Desember 2019 mengalami defisit tipis US$28,2 juta.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, defisit tersebut terjadi seiring dengan nilai impor Desember 2019 yang mencapai US$14,50 miliar dibandingkan dengan kinerja nilai ekspor Desember 2019 yang mencapai US$14,47 miliar.

"Defisit Desember ini tipis jauh dibandingkan dengan defisit November 2019," katanya saat jumpa pers, Rabu (15/1/2020).

Sejumlah ekonom memperkirakan neraca perdagangan Desember 2019 kembali mencatatkan defisit hingga US$970 juta yang salah satunya dipicu oleh meningkatnya impor barang konsumsi seiring dengan perayaan Natal dan Tahun Baru.

Pencatatan neraca dagang Desember 2019 dengan defisit yang tipis ini menurut Suhariyanto sudah memperbaiki kinerja neraca dagang kumulatif 2019 sehingga nilai defisit pada tahun lalu tidak sebesar defisit pada 2018.

“Total kumulatif Januari 2019 sampai Desember 2019, untuk ekspor 2019 adalah US$167,63 miliar dan total impor adalah US$170,72 miliar. Sehingga defisit ini masih jauh lebih kecil dari kumulatif 2018 sebesar US$8,7 miliar,” kata Suhariyanto.

Secara teperinci kumulatif dari nilai ekspor Indonesia Januari–Desember 2019 mencapai US$167,53 miliar atau menurun 6,94% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2018, demikian juga ekspor nonmigas mencapai US$154,99 miliar atau menurun 4,82%.

Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari– Desember 2019 turun 2,73% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2018, dan ekspor hasil tambang dan lainnya turun 15,30% . Sementara itu, ekspor hasil pertanian naik 5,31%.

Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari–Desember 2019 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$29,94 miliar (17,87 persen), diikuti Jawa Timur US$18,67 miliar (11,14 persen) dan Kalimantan Timur US$16,41 miliar (9,79 persen).

Sementara itu untuk impor, tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari−Desember 2019 ditempati oleh Tiongkok dengan nilai US$44,58 miliar dengan pangsa 29,95%, Jepang US$15,59 miliar dengan pangsa 10,47%, dan Thailand US$9,41 miliar dengan pangsa 6,32%. Impor nonmigas dari Asean US$29.291,9 dengan pangsa 19,68%, sedangkan dari Uni Eropa US$12.344,5 dengan pangsa 8,29%.

Nilai impor semua golongan penggunaan barang baik barang konsumsi, bahan baku atau penolong, dan barang modal selama Januari−Desember 2019 mengalami penurunan dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Masing-masing tercatat turun 4,51%; 11,07%; dan 5,13%.

Sebelumnya, kinerja neraca perdagangan November 2019 tercatat mengalami defisit sebesar US$1,33 miliar.

Defisit tersebut sejalan dengan kinerja impor November 2019 yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kinerja ekspor November 2019. Secara total kinerja impor November 2019 mencapai US$15,34 miliar sehingga kalau dibandingkan dengan kinerja ekspor, terjadi defisit sebesar US$1,33 miliar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Neraca Perdagangan

Editor : Achmad Aris
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top