Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Perang Dagang Tekan Volume Perdagangan China-AS

Administrasi Bea Cukai China melaporkan bahwa ekspor dalam yuan tumbuh sebesar 5% secara tahunan pada 2019 dan impor naik 1,6%.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 14 Januari 2020  |  11:32 WIB
Perang dagang AS-China - istimewa
Perang dagang AS-China - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Total ekspor China sepanjang 2019 mengalami kenaikan dengan lonjakan permintaan global, sedangkan perdagangan dengan AS dilaporkan turun hampir 11% di tengah perang dagang antara kedua negara.

Administrasi Bea Cukai China melaporkan bahwa ekspor dalam yuan tumbuh sebesar 5% secara tahunan pada 2019 dan impor naik 1,6%.

Ekspansi tersebut memperlebar surplus perdagangan China sebesar 25,4% menjadi 2,92 triliun yuan atau sebesar US$424,6 miliar untuk 2019.

"Uni Eropa tetap menjadi mitra dagang terbesar China, diikuti oleh Asean pada peringkat kedua dan Amerika Serikat pada peringkat ketiga," seperti dikutip melalui Bloomberg, Selasa (14/1/2020).

Pada perkembangan perjanjian dagang antara AS dan China, Wakil Perdana Menteri China Liu He akan menandatangani tahap pertama dari kesepakatan tersebut di Washington pada 15 Januari.

Gencatan senjata itu telah meredakan kekhawatiran perang dagang yang meningkat antara dua ekonomi terbesar dunia, setidaknya untuk sementara, ketika fokus para investor terpusat pada konflik di Timur Tengah dan harga minyak yang tidak stabil.

Pemerintah China dijadwalkan untuk mengumumkan pertumbuhan produk domestik bruto 2019 pada Jumat (17/1/2020).

Akhir pekan lalu, kepala biro statistik China memberikan indikasi awal yang memproyeksikan target pertumbuhan ekonomi pada kisara 6%-6,5%.

Data ekonomi yang melemah sepanjang 2019 memicu pemangkasan suku bunga utama bulan ini guna menjaga kondisi likuiditas domestik agar tetap stabil.

Langkah ini diambil di tengah upaya pemerintah untuk mendorong sektor swasta serta antisipasi krisis uang tunai yang diperkirakan selama liburan tahun baru Imlek 2020.

Di sisi lain, inflasi konsumen secara keseluruhan stabil pada Desember meskipun kenaikan harga daging babi yang terus berlanjut, meninggalkan bank sentral cukup ruang untuk pelonggaran tambahan.

Ekonom Macquaire Group Ltd. Larry Hu berpendapat bahwa ketegangan perang dagang sudah lewat, setidaknya untuk 2020. Dengan demikian, perlambatan ekonomi China pada 2019 tidak jauh berbeda dari negara-negara lain di dunia.

"[Ini] menunjukkan perlambatan utamanya disebabkan oleh ekonomi global yang melambat, bukan perang dagang," tulis Hu dalam sebuah catatan pekan lalu.

Dia menambahkan bahwa ketegangan yang mereda tidak akan menjadi pendorong besar bagi ekspor dan memperkirakan ekspor mungkin akan tumbuh 0% pada 2020.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perang dagang AS vs China
Editor : Achmad Aris
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top