Kecelakaan Maut Bus Sriwijaya, Ini 4 Rekomendasi Sementara KNKT untuk Kemenhub

Investigator Sub Komite Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) KNKT Achmad Wildan, menuturkan sejumlah rekomendasi terhadap pemerintah pascakecelakaan yang menewaskan 41 orang dengan perincian 38 penumpang dan 3 awak bus.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 10 Januari 2020  |  01:35 WIB
Kecelakaan Maut Bus Sriwijaya, Ini 4 Rekomendasi Sementara KNKT untuk Kemenhub
Kecelakaan maut Bus Sriwijaya di Sungai Lematang Kota Pagaralam - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Komite Nasional Keselamatan Transportasi mengunjungi Kementerian Perhubungan untuk menyampaikan rekomendasi pascakecelakaan bus Sriwijaya di Pagar Alam, Sumatera Selatan.

KNKT terutama meminta Kemenhub melakukan perbaikan pagar pengamanan dan inspeksi keselamatan.

Investigator Sub Komite Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) KNKT Achmad Wildan, menuturkan sejumlah rekomendasi terhadap pemerintah pascakecelakaan yang menewaskan 41 orang dengan perincian 38 penumpang dan 3 awak bus.

Adapun korban luka berat sejumlah 13 orang, terdiri atas 12 orang penumpang dan seorang awak bus.

"Tadi Ditjen Darat sudah melakukan langkah-langkah taktis untuk melaksanakan semua rekomendasi KNKT," paparnya kepada Bisnis, Kamis (9/1/2020).

Berdasarkan laporan pendahuluannya, KNKT memberikan 4 rekomendasi untuk Kemenhub.

Pertama, melakukan perbaikan pagar pengaman jalan

Kedua, melakukan edukasi atau sosialisasi secara masif tentang prosedur mengemudi dalam jangka pendek. Selain itu, Kemenhub diminta memasukkan topik prosedur mengemudi pada ujian teori dan praktik sim B1 dan B2 dalam jangka menengah, serta memasukkan topik prosedur mengemudi dan pemahaman tentang sistem rem pada kursil (kurikulum silabus) pendidikan mengemudi.

Rekomendasi ketiga, Kemenhub diminta melakukan survei inspeksi keselamatan jalan pada ruas jalan Manna – Pagar Alam – Palembang untuk mengidentifikasi risk dan hazard serta menyusun program mitigasinya.

Keempat, membuat program pilot project implementasi sistem manajemen keselamatan (SMK) angkutan umum dalam jangka pendek, mengevaluasi secara komprehensif implementasi SMK angkutan umum pada perusahaan angkutan umum dalam jangka menengah,) menjadikan SMK sebagai syarat utama diberikannya izin trayek dalam jangka panjang.

Dalam dugaan awal, ditemukan kesimpulan bahwa mobil bus masuk jurang karena kegagalan pengereman yang diakibatkan oleh brake fading atau tekanan angin tekor.

Kegagalan pengereman tersebut dipicu tindakan pengemudi yang tidak menggunakan prosedur mengemudi dengan benar. 

"Adanya kondisi teknis mobil bus yang di bawah standar juga meningkatkan risiko tapi bukan sebagai faktor yang berkontribusi langsung terhadap kegagalan pengereman," katanya.

Selain itu, desain pagar pengaman jalan pada jembatan Lematang perlu dievaluasi mengingat pada posisi rawan jatuh justru menggunakan ukuran yang lebih kecil dibandingkan dengan yang di tengah, sementara gaya sentrifugal terletak pada bagian yang kecil.

"Laporannya belum final, masih ada proses analisa lagi, tapi sudah dibuat rekomendasi yang bersifat segera," jelasnya.

Sebelumnya, Pada Senin, 24 Desember 2019 Bus Sriwijaya dengan Nomor Kendaraan BD.7031.AU berangkat dari pool bus di Kota Bengkulu menuju Palembang pukul 14.00 WIB dengan membawa 27 penumpang. 

Di tengah perjalanan jumlah penumpang bertambah menjadi 50 orang. Bus diawaki 2 orang pengemudi dan 2 pembantu pengemudi. 

Pukul 23.45 WIB saat hendak melewati jembatan Lematang, bus kehilangan kendali dan menabrak pembatas jalan selanjutnya terjun ke dalam jurang sedalam 100 meter. Kondisi cuaca saat itu hujan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
knkt, kecelakaan bus

Editor : Saeno
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top