Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Hadapi Resesi, The Fed Punya Cukup Amunisi Perang

Mantan Gubernur The Fed Ben Bernanke menyampaikan penilaian yang cukup optimistis terhadap kemampuan bank sentral AS untuk melawan resesi berikutnya.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 05 Januari 2020  |  18:55 WIB
Mantan Gubernur The Fed Ben Bernanke menyampaikan penilaian yang cukup optimistis terhadap kemampuan bank sentral AS untuk melawan resesi berikutnya. - Reuters
Mantan Gubernur The Fed Ben Bernanke menyampaikan penilaian yang cukup optimistis terhadap kemampuan bank sentral AS untuk melawan resesi berikutnya. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Mantan Gubernur The Fed Ben Bernanke menyampaikan penilaian yang cukup optimistis terhadap kemampuan bank sentral AS untuk melawan resesi berikutnya.

The Fed memiliki ruang yang terbatas untuk memangkas suku bunga jangka pendek karena posisi suku bunga acuan saat ini sudah sangat rendah.

Namun, menurut Bernanke, pelonggaran kuantitatif (quantitative easing/QE) dan panduan kebijakan ke depan dapat memberikan dorongan tambahan yang cukup untuk memerangi kontraksi ekonomi di masa depan.

"Alat kebijakan baru ini cukup efektif. Pelonggaran kuantitatif dan panduan ke depan dapat memberikan dorongan setara dengan 3 poin persentase penurunan tambahan pada suku bunga jangka pendek," ujarnya dalam rangkuman pidatonya di pertemuan tahunan American Economic Association, dikutip Bloomberg, Minggu (5/1/2020).

Bernanke mengatakan The Fed juga harus mempertimbangkan untuk mengadopsi beberapa instrumen yang digunakan oleh bank sentral lain, termasuk pengendalian kurva imbal hasil hingga dua tahun dan pendanaan untuk program pinjaman.

Dia menyarankan The Fed agar tidak mengesampingkan kemungkinan mendorong suku bunga jangka pendek di bawah nol, sesuatu yang banyak dilakukan para pembuat kebijakan saat ini.

Tidak peduli pendekatan apa yang diadopsi The Fed untuk melawan resesi di masa depan, imbal hasil jangka panjang mungkin akan melewati waktu yang lebih panjang pada posisi nol atau di bawah nol, menurut Bernanke, yang sekarang menjadi Mitra Kehormatan di Brookings Institution, Washington.

Langkah itu dinilai dapat menimbulkan risiko bagi stabilitas keuangan.

"Sebagian pelonggaran moneter bekerja dengan meningkatkan kecenderungan investor dan pemberi pinjaman untuk mengambil risiko. Kewaspadaan dan kebijakan yang tepat, termasuk kebijakan makro-prudensial dan regulasi, sangat penting," kata Bernanke.

Bernanke mengatakan penilaiannya yang meyakini bahwa kebijakan moneter dapat memerangi resesi berikutnya, juga bertumpu pada satu hipotesis penting.

Menurut Bernanke tingkat netral suku bunga jangka pendek, yang tidak memacu atau membatasi pertumbuhan ekonomi, adalah antara 2 persen dan 3 persen.

Jika tingkat ekuilibrium jauh di bawah itu, seperti yang diindikasikan dalam beberapa penelitian The Fed, maka QE dan panduan ke depan tidak akan cukup untuk melawan penurunan.

"Dalam hal itu, langkah-langkah lain untuk meningkatkan ruang kebijakan, termasuk meningkatkan target inflasi, mungkin diperlukan," kata Bernanke.

Kebijakan fiskal mungkin juga harus memainkan peran lebih sentral dalam menghadapi kontraksi, kemungkinan bahwa pemerintah harus bersiap untuk saat ini, tambahnya.

Bank-bank sentral di Eropa dan Jepang menghadapi kesulitan yang bahkan lebih besar, sebagian besar karena ekspektasi inflasi di sana telah jatuh terlalu jauh.

Dalam yurisdiksi tersebut, kebijakan fiskal dan moneter mungkin diperlukan untuk menaikkan ekspektasi inflasi.

"Jika itu bisa dilakukan, maka kebijakan moneter, ditambah dengan alat kebijakan baru, akan mendapatkan kembali sebagian besar potensinya," kata Bernanke.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

resesi bernanke the fed
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top