Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Produk Impor Deras, Industri Keramik Diproyeksikan Hanya Tumbuh 5 Persen

Harga keramik impor saat ini sudah kembali sama dengan harga sebelum safeguard karena beberapa langkah yang diambil produsen China dan murahnya keramik India.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 18 Desember 2019  |  12:56 WIB
ilustrasi - Bisnis.com
ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Aneka Keramik (Asaki) merevisi target pertumbuhan tahun ini dari 8% menjadi 5% karena arus impor keramik dari China, India, dan Vietnam kian deras.

Ketua Umum Asaki Edy Suyanto menyatakan perlindungan yang diberikan oleh pemerintah terhadap industri keramik mulai tidak efektif pasca devaluasi Yuan pada kuartal III/2019. Menurutnya, penurunan nilai Yuan sekitar 4% tersebut membuat penambahan bea masuk oleh safeguard sebesar 23,% pada tahun pertama menjadi tidak efektif.

“Harga keramik impor saat ini bahkan sudah kembali sama dengan harga sebelum safeguard karena beberapa langkah yang diambil produsen China dan murahnya keramik India,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (18/12/2019).

Edy menjelaskan langkah produsen keramik China yang dimaksud adalah mengurangi ketebalan keramik. Selain itu, rendahnya harga keramik dari India di dalam negeri membuat volume impor dari negara tersebut meroket hingga 2.100%.

Pihaknya menunggu percepatan harmonisasi Peraturan Pemerintah (PP) No. 34/2011 tentang perlindungan perdagangn. Asaki mengusulkan agar penambahan bea masuk yang dikenakan terhadap produsen China juga dikenakan pada produsen dari India dan Vietnam.

Selain itu Asaki juga mengusulkan penerapan pembatasan pelabuhan impor dan penerapan safeguard berupa kuota impor bagi negara asal keramik impor.

Walaupun harga keramik impor kembali sama, utilitas pabrikan keramik pada tahun ini dinilai akan tumbuh terbatas. Edy menyatakan produksi keramik pada tahun ini tumbuh 12,01% menjadi sekitar 340 juta—350 juta meter persegi (square meter/sqm). Adapun, utilitas pabrikan naik 725 basis poin (bps) menjadi sekitar 67,64%.

Edi menjelaskan pertumbuhan tersebut datang dari permintaan keramik segmen menengah ke bawah yang tidak tersentuh keramik impor. Namun, Edy memastikan tidak ada pertumbuhan pada produksi keramik segmen menengah ke atas lantaran harga keramik impor yang lebih murah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri keramik
Editor : Galih Kurniawan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top