Polemik Izin Ekspor Benih Lobster, Ini Cerita Blak-blakan Susi Pudjiastuti

Susi mengatakan mendapat informasi tentang pengambilan bibit dimulai pada 1995 di Lombok dan mulai menyebar ke daerah lain sekitar 2000.
JIBI
JIBI - Bisnis.com 15 Desember 2019  |  06:34 WIB
Polemik Izin Ekspor Benih Lobster, Ini Cerita Blak-blakan Susi Pudjiastuti
Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti (kanan) didampingi Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, menyampaikan sambutan dalam acara serah terima jabatan (Sertijab) di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta, Rabu (23/10/2019) - ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Bisnis.com, JAKARTA - Polemik soal rencana Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo untuk membuka kembali keran ekspor benih lobster mendapat reaksi keras dari Susi Pudjiastuti.

Mantan Menteri KKP itu pun blak-blakan bercerita awal mula perjalanannya mulai dari penangkapan bibit lobster hingga pelarangan untuk diekspor. 

Susi mengatakan mendapat informasi tentang pengambilan bibit dimulai pada 1995 di Lombok dan mulai menyebar ke daerah lain sekitar 2000. 

Sebelum 2000 Indonesia mengekspor ribuan ton lobster dalam bentuk fresh frozen ke Jepang. Setelah 2000, Indonesia banyak menjual Lobster hidup ke Hong Kong.

"Harga Lobster terus naik karena jumlah lobster jauh turun. Pasar Jepang kalah, harga lobster hidup makin mahal. Pengambilan bibit besar-besaran menyebar di wilayah selatan Jawa dan barat Sumatera," kata Susi melalui Twitter-nya @susipudjiastuti, Sabtu (14/12/2019).

Menurut Susi, nelayan di masa lampau bisa jadi tiap musim lobster selama empat bulanan bisa dapat ratusan juta. Saat ini kata dia, cuma puluhan ribu saja yang bisa dikantongi nelayan.

"Sebelum masuk KKP saya tidak tahu, berkurangnya jumlah lobster dari ribuan ton menjadi hanya puluhan ton per musim itu karena bibit-bibitnya diambil. Saya pikir karena nelayan ambil ukuran juga makin kecil. Awal tahun 90 an lobster kecil tidak laku. Makin ke sini semua dibeli, akhirnya semua diambil," kata dia.

Dulu dia pernah membeli lobster ukuran kecil dari Jawa ukuran kurang dari 100 gram, lalu dibawa ke Pulau Simeulue untuk dilepas di laut. Hal itu karena dia lihat di Simeulue, nelayan hanya tangkap pakai tangan dan pilih yang besar-besar saja.

Dia berharap tindakannya itu akan menjaga keberlanjutannya. Namun dia tidak tahu, ternyata bibit-bibit lobster itu diambil untuk diekspor ke Vietnam.

Susi juga mengatakan dulu di pasar ikan Pangandaran per hari dilelang lobster minimal 1 ton lobster. Namun sekarang sekarang ada 50 kilogram saja sudah banyak.

“Karena itu saya putuskan tahun 2015 untuk membatasi pengambilan lobster min size 200 gram per ekor. Bibit saya larang untuk diambil dan dari data menunjukkan empat tahun terakhir ekspor lobster Indonesia naik," ujar Susi.

RENCANA MENTERI KKP IZINKAN EKSPOR BENIH

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menyatakan ada kemungkinan pemerintah bakal membuka kembali keran ekspor benih lobster dengan kuota. Kebijakan itu diambil untuk meningkatkan nilai tambah budidaya lobster di level petambak.

“Kenapa enggak ambil langkah izinkan budidaya, kita berikan (izin) ekspor (benih lobster) dengan kuota,” kata Edhy dalam rapat kerja nasional KKP di Jakarta Pusat, 4 Desember lalu.

Kemarin Edhy mengatakan budidaya lobster sudah dilakukan di negara-negara Asia, salah satunya Vietnam. Di sana, kata dia, benih lobster yang dibudidayakan bisa mencapai 70 persen. Namun pertumbuhan benih lobster untuk bertahan hidup tidak mencapai satu persen.

Merespons hal itu, Susi mempertanyakan kenapa Indonesia harus memikirkan petambak lobster Vietnam "Sehingga kita harus ekspor bibit lobster ke Vietnam ?????? Terlalu bodohkah saya untuk mengertikan maksud yg dibicarakan?????," kata Susi.

Dia mengatakan lobster tidak perlu ditambak. Yang diperlukan adalah mengatur dan menjaga ukuran tangkapnya. Karena, Susi melihat lobster di alam besar lebih cepat dan beranak pinak terus menerus berkelanjutan. 

"Akhirnya lobster akan terus ada dan banyak untuk kesejahteraan nelayan-nelayan penangkap," ujar Susi.

Ekonom dari Universitas Indonesia Faisal Basri menyayangkan adanya kemungkinan KKP membuka kembali opsi ekspor benih lobster. Pandangan itu ia sampaikan dalam diskusi para pakar di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa, 10 Desember 2019.

"Ekspor benih lobster dulu sudah dilarang. Sekarang mau dibuka. Sudah gila apa ini," ujar Faisal disambut gelak lirih para peserta diskusi.

Menurut Faisal, pembukaan kembali keran ekspor bayi lobster akan berpengaruh buruk, baik terhadap iklim dagang maupun lingkungan. Ia memandang kebijakan itu bakal memberi celah mafia untuk bergerilya.

Seumpama diberi keleluasaan untuk mengirimkan benih lobster ke luar negeri, Faisal memperkirakan mafia bakal bermunculan untuk meraup keuntungan besar. Sebab, harga beli benih lobster saat ini telah mencapai 5.000 yen per ekor.

Adapun terhadap lingkungan, ekspor benih lobster dikhawatirkan bakal menimbulkan eksploitasi besar-besaran. "Telur-telur lobster itu rusak. Dia enggak peduli laut kita rusak lagi," ucapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kkp, Lobster

Sumber : Tempo.co

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top