Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

PHRI: Okupansi Hotel Bisa Tembus 55 Persen pada 2020

 Okupansi atau tingkat hunian kamar hotel klasifikasi bintang pada 2020 diperkirakan mencapai 55%, naik dari tahun ini yang diprediksi hanya mampu menyentuh 53%.
Dewi Aminatuz Zuhriyah
Dewi Aminatuz Zuhriyah - Bisnis.com 11 Desember 2019  |  14:45 WIB
Resepsionis hotel sedang melayani calon konsumen. - Ilustrasi/Bisnis/Amri Nur Rahmat
Resepsionis hotel sedang melayani calon konsumen. - Ilustrasi/Bisnis/Amri Nur Rahmat

Bisnis.com, JAKARTA - Okupansi atau tingkat hunian kamar hotel klasifikasi bintang pada 2020 diperkirakan mencapai 55%, naik dari tahun ini yang diprediksi hanya mampu menyentuh 53%.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani menuturkan angka proyeksi itu dipicu oleh kemungkinan adanya kenaikan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada tahun depan. Dia memperkirakan kunjungan wisman pada 2020 sebanyak 16,5 juta orang.

Tahun lalu [2018], okupansi hotel nasional mencapai 54%-55%. Tahun ini 52%-53%. Tahun depan [2020], diperkirakan 55%. Namun, proyeksi 55% ini karena jumlah kamar yang terus bertambah, apalagi ada virtual operator dan operator hotel dengan sistem sharing economy,” katanya.

Lebih lanjut, dia mengakui bahwa memang benar pada tahun ini ada tren penurunan industri perhotelan. Terlebih, perhotelan yang ada di daerah timur seperti Jayapura, Ambon, Makassar.

“Paling terpuruk itu Jayapura, Ambon, Makassar. Pokoknya yang diluar Jawa rata-rata terjadi penurunan. Bali juga turun okupansinya.”

Menurutnya, selama ini bisnis perhotelan yang masih stabil hanya di Jawa dan Sumatera Barat. Namun, untuk Jawa itu pun hanya terjadi pada hotel-hotel di Jakarta. “Di Yogyakarta itu sebetulnya turun juga.”

Menurutnya, perlambatan industri perhotelan selain dikarenakan penurunan kunjungan wisatawan, juga karena dampak ekonomi global.

Data BPS mencatat bahwa tingkat penggunaan kamar (TPK) hotel klasifikasi bintang pada September 2019 hanya mencapai 53,52% atau turun 5,43 poin dibandingkan dengan TPK September 2018 yang mencapai 58,95%.

Hal itu juga terjadi pada TPK hotel klasifikasi bintang di Indonesia pada Oktober 2019 mencapai rata-rata 56,77 persen atau turun 2,07 poin dibandingkan dengan TPK Oktober 2018 yang tercatat sebesar 58,84 persen. Sementara itu, jika dibanding TPK September 2019, TPK hotel klasifikasi bintang pada Oktober 2019 mengalami kenaikan sebesar 3,25 poin.

Sebaliknya, tren penurunan itu tidak terjadi pada hotel budget termasuk virtual operator hotel seperti RedDooorz dan OYO.  

Sebelumnya, Mohit Gandas selaku Country Director RedDoorz Indonesia mengatakan, ancaman resesi ekonomi saat ini tidak berpengaruh langsung terhadap bisnisnya.

Menurutnya, RedDoorz di Indonesia justru bertumbuh lima kali lipat pada 2019, karena perilaku menginap wisatawan saat ini beralih ke hotel yang lebih terjangkau.

“Bagi wisatawan di Indonesia, yang terpenting adalah pengalaman yang didapatkan ketika bepergian, dalam hal ini RedDoorz memberikan pelayananan yang terstandardisasi tanpa mengorbankan kualitas sehingga wisatawan tetap mendapatkan mendapatkan pengalaman menginap yang berkesan meskipun tinggal di penginapan yang terjangkau,”kata Mohit.

Mohit meyakini adanya shifting itu membuat tren pertumbuhan bisnis RedDoorz  bisa tumbuh 3 kali lipat pada 2020.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hotel phri okupansi hotel
Editor : Wike Dita Herlinda
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top