Private Label Jadi Strategi Ritel Modern Hadapi Kompetisi dengan Dagang-el

Penjualan produk dengan kemasan dan merk sendiri atau private label menjadi salah satu strategi yang digunakan oleh peritel modern di Tanah Air untuk menghadapi penurunan konsumsi dan daya beli di tengah-tengah masyarakat.
Rezha Hadyan
Rezha Hadyan - Bisnis.com 03 Desember 2019  |  17:52 WIB
Private Label Jadi Strategi Ritel Modern Hadapi Kompetisi dengan Dagang-el
Gerai Hero Supermarket - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA - Penjualan produk dengan kemasan dan merk sendiri atau private label menjadi salah satu strategi yang digunakan oleh peritel modern di Tanah Air untuk menghadapi penurunan konsumsi dan daya beli di tengah-tengah masyarakat.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey mengatakan produk private label merupakan salah satu upaya peritel modern untuk mempertahankan konsumen setianya yang satu persatu mulai beralih ke platform dagang-el (e-commerce) dengan segudang promosi yang ditawarkan.

Menurutnya, produk tersebut memungkinkan peritel modern menjual produk dengan harga yang lebih terjangkau dan kualitasnya sama dengan produk sejenis.

“Produknya tentu [ditawarkan] dengan harga yang lebih terjangkau, karena untuk produk-produk yang sudah memiliki merek ini kan harganya sudah fixed dari pabrikannya masing-masing dan tidak bisa benar-benar ditekan. Produk jenis apa yang paling disukai konsumen kami pesan ke produsen langsung,” katanya, Selasa (3/12/2019).

Produk private label yang ditawarkan oleh peritel modern sebagian besar adalah produk kebutuhan sehari-hari (fast moving consumer goods/FCMG) dan produk generik yang harganya relatif terjangkau, digunakan dengan segera, dan sedikit membutuhkan pertimbangan dalam keputusan pembelian.

Adapun, konsumen yang disasar oleh produk tersebut adalah mereka yang sensitif terhadap harga dan tidak memiliki loyalitas terhadap suatu merk.

“Produk private label yang ada di ritel modern di Indonesia masih kurang dari 20% di masing-masing gerai, tetapi melihat adanya perubahan perilaku konsumen saat ini yang lebih rasional dalam berbelanja tidak menutup kemungkinan persentasenya akan naik di kemudian hari,” ungkap Roy.

Kemudian, untuk strategi promosi produk private label, menurut Roy peritel modern perlu memperkuat penjenamaan atau branding di masing-masing gerai yang dimiliki dan mengemas produk tersebut dengan kemasan yang menarik. Selain itu, kualitas produk private label juga harus betul-betul diperhatikan lantaran saling mempengaruhi satu sama lain.

“Kemudian produk private label ini juga harus mengikuti keinginan konsumen seperti apa. Sekarang zamannya sudah berubah. Baik kami peritel modern maupun produsen ini harus mengikuti mereka. Bukan produsen membuat produk, kami mendistribusikannya dan konsumen tinggal membeli begitu saja,” ujarnya.

Lebih lanjut, menurut Roy produk private label juga merupakan salah satu langkah yang dapat digunakan untuk menjembatani pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang secara kualitas produknya sudah baik tetapi persyaratan usahanya belum terpenuhi.

Dengan demikian, peningkatan permintaan akan produk tersebut adalah peluang bagi pelaku UMKM untuk memperluas pasarnya yang selama ini lebih banyak dijual secara tradisional.

“[Produk] private label sudah pasti 100% produk lokal, karena kita tidak mungkin kami bekerjasama untuk memproduksi itu dengan pihak asing. Selain perusahaan lokal, tentunya produk-produk private label juga dipasok oleh UMKM yang memang memenuhi syarat,” tegasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ritel modern

Editor : Wike Dita Herlinda
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top