Natal dan Tahun Baru Jadi Harapan Industri Perhotelan

Libur natal dan akhir tahun diharapkan bisa menjadi andalan bagi hotel berbintang untuk mendongkrak okupansinya.
Dewi Aminatuz Zuhriyah
Dewi Aminatuz Zuhriyah - Bisnis.com 02 Desember 2019  |  21:15 WIB
Natal dan Tahun Baru Jadi Harapan Industri Perhotelan
Ilustrasi perayaan Natal. - Reuters/Ammar Awad

Bisnis.com, JAKARTA—Libur natal dan akhir tahun diharapkan bisa menjadi andalan bagi hotel berbintang untuk mendongkrak okupansinya.

Ketua PHRI Hariyadi Sukamdani mengatakan hingga akhir tahun, diperkirakan proyeksi okupansi hotel hingga akhir 2019 diperkirakan hanya sebesar 52%. Menurutnya, libur Natal dan tahun baru tidak berdampak banyak khususnya pada hotel bintang tiga, dua dan satu.

“Kalau sepanjang 2019 sampai hari ini, secara nasional, belum keluar. Tetapi proyeksinya sih sekitar 51-52% karena semester pertama jelek banget,” kata Hariyadi, Senin (2/12).

Untuk hotel berbintang 4 dan 5, Hariyadi mengatakan  biasanya pada akhir tahun mereka akan terbantu dengan tamu yang menyewa functional room.

“Kalau strategi akhir tahun sih biasa saja, paling mereka [hotel berbintang] bikin  event sendiri atau ballroom mereka disewa untuk bikin event. Nah kalau okupansi itu relatif, kalau dia bintang 4 dan 5 yang punya ballroom besar dia relatif terbantu dengan acara mereka,”imbuhnya.  

Sedangkan untuk hotel bintang 3, 2 dan 1 akan lebih menggantungkan pada kunjungan tamu yang berlibur pada akhir tahun.

“Kalau bintang tiga hingga satu, mungkin ya terisi sih lumayan juga tapi mereka lebih bergantung pada orang yang datang, overall lumayan, okupansinya diatas 80%.”

Dia menuturkan, adanya tren penurunan kunjungan wisman memang sangat mempengaruhi khususnya untuk perhotelan di Bali dan Yogyakarta.

Dalam hal ini, dia meminta agar pemerintah daerah dan pemerintah pusat ikut turun tangan mengatasi penurunan jumlah wisman tersebut.

“Itu kan satu kesatuan, artinya gak bisa memasarkan hotelnya sendiri. Harus ada bantuan dari pemda dan pempus. Apalagi ini juga akibat dampak perang dagang AS-China sehingga banyak wisman yang menahan diri untuk tidak traveling.”

Sebab itu, dia berharap pemerintah juga mulai mengaktifkan kembali Badan Promosi Pariwisata Indonesia.

Selama ini, penyumbang terbesar industri perhotelan didapat dari pemerintah melalui Meeting, Incentives, Conferncing, and Exhibitions (MICE). Namun, Hariyadi menilai industri perhotelan tak bisa bergantung terus menerus pada pemerintah. Sehingga harus ada upaya untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan baik asing maupun domestik.

Sementara itu, public relations manager Grand Inna Bali Beach Ayu Dewi menuturkan sepanjang 2019 okupansi hotel tersebut diperkirakan pada kisaran 60-70%.

Ayu menuturkan, untuk menyambut libur akhir tahun dan Natal, pihaknya menyiapkan berbagai macam promo untuk menarik para wisatawan. “Dengan promo special dinner di penghujung tahun kami harapkan dapat meningkatkan para tamu utk tinggal dan menginap di hotel kami,” kata Ayu.

Adapun data Badan Pusat Statistik menyatakan, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel klasifikasi bintang di Indonesia pada Oktober 2019mencapai rata-rata 56,77 % atau turun 2,07 poin dibandingkan TPK Oktober 2018 yang sebesar 58,84 %. Sementara, jika dibanding dengan TPK September 2019 yang tercatat 53,52 %, TPK Oktober 2019 mengalami kenaikan sebesar 3,25 poin.

TPK tertinggi tercatat di Bengkulu sebesar 68,97 %, diikuti Bali sebesar 63,30 %, dan Lampung sebesar 62,99 %, sedangkan TPK terendah tercatat di Papua yang sebesar 42,87 %

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hotel

Editor : Mia Chitra Dinisari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top