Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Hunian seperti Ini yang Paling Banyak Diburu Pembeli

Pengembang mulai banyak masuk ke pasar menengah karena pasar kelas atas belum banyak bergerak.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 25 November 2019  |  08:42 WIB
Ilustrasi: Sejumlah anak bermain di sekitar Rumah Susun Sederhana Sewa (rusunawa) Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) Mancasan, Gulon, Muntilan., Magelang, Jateng, Rabu (20/2/2019). - ANTARA FOTO/Anis Efizudin
Ilustrasi: Sejumlah anak bermain di sekitar Rumah Susun Sederhana Sewa (rusunawa) Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) Mancasan, Gulon, Muntilan., Magelang, Jateng, Rabu (20/2/2019). - ANTARA FOTO/Anis Efizudin

Bisnis.com, JAKARTA — Kebutuhan masyarakat akan hunian makin besar setiap tahun, terlebih terhadap hunian yang harganya terjangkau dan dekat dengan pusat kota atau setidaknya transportasi umum.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk menangkap potensi tersebut adalah membangun hunian low rise.

Properti low rise merupakan hunian vertikal yang tidak dibangun dengan banyak lantai dan menjulang tinggi, tetapi hanya terdiri atas 4 lantai hingga 5 lantai. Bentuknya bisa seperti rumah susun sederhana atau rumah toko.

Marketing Director Paramount Land Alvin Andronicus mengatakan bahwa dalam 2 tahun terakhir properti low rise memiliki tren yang cukup baik. Pasalnya kebanyakan bangunan rendah itu dipakai oleh pengguna akhir.

“Jadi, karena dari segi ukuran biasanya tidak terlalu besar, harganya tidak terlalu tinggi jadi banyak dicari oleh end user,” katanya kepada Bisnis, Minggu (24/11/2019).

Alvin menuturkan bahwa secara ekonomis pertumbuhan properti low rise sangat tinggi dan sejalan dengan program penyediaan rusun oleh pemerintah seperti pengembangan rumah susun sederhana sewa (rusunawa) atau milik (rusunami) di pasar-pasar atau kawasan kumuh.

“Nah, ini potensi seperti ini yang mesti ditangkap pengembang tahun depan, artinya user masih tetap menantikan harapan untuk membeli properti yang akan mereka gunakan, bukan untuk investor,” ungkapnya.

Kondisi ini, sambung Alvin sudah banyak direncanakan banyak pengembang. Tahun depan, melihat potensi pasar yang lebih condong kepada end user, banyak pengembang yang akhirnya mulai masuk ke pasar menengah, ditambah dengan pasar kelas atas yang belum banyak bergerak.

Akan tetapi, beberapa hal bisa menjadi hambatan dalam pengembangan properti low rise, di antaranya, lokasi. Umumnya, harga tanah yang dibeli belum tentu cocok untuk dipasarkan dengan harga properti low rise yang cenderung terjangkau.

“Karena benturannya harga perolehan tanahnya yang bervariasi, dengan minim infrastruktur tentunya tidak gampang untuk dijual. Namun, kalau, misalnya, harga tercapai dengan norma yang bagus, infrastruktur di sana tidak minim, fasilitas lengkap itu bakal diincar para developer,” imbuhnya.

Menurut Alvin, sekarang bukan lagi masalah jarak yang jauh. Selama terkoneksi dengan baik dengan transportasi masal dia yakin propertinya akan tetap laku, terutama jika yang membangun juga dari pengembang yang tepercaya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

apartemen rusun perumahan
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top