Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kunker ke Jepang, Menko Luhut: RI sedang Transformasi Ekonomi Menuju Hilirisasi

Dalam kunjungan kerjanya ke Jepang, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan menyatakan bahwa Indonesia sedang melakukan transformasi ekonomi dari komoditas mentah ke hilirisasi.
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 21 November 2019  |  22:14 WIB
Bisnis.com, JAKARTA - Dalam kunjungan kerjanya ke Jepang, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan menyatakan bahwa Indonesia sedang melakukan transformasi ekonomi dari komoditas mentah ke hilirisasi. 
 
Hal itu diungkapkan Luhut bertemu dengan Hiromichi Mizuno Executive Managing Director, Chief Investment Officer Japan's Government Pension Investment Fund, die Tokyo, Kamis (21/11/2019).
 
“Tadi saya bertemu dengan Mr. Hiro, ini dia sangat tertarik dan dia bilang bahwa ini super important meeting. Dia bilang ‘saya tidak tahu kalau Indonesia ini bisa begini’. Nah, itu saya kaget juga, tidak ada yang memberitahu ke dia bahwa Indonesia sekarang sudah mentransformasikan kita ke hilirisasi,” katanya lewat melalui tertulis.
 
Menko Luhut menjelaskan mengenai transformasi ekonomi Indonesia dari komoditas mentah hingga sekarang menjadi hilirisasi, seperti nickle ore menjadi stainless steel, karbon steel sampai lithium battery, di mana Indonesia terbesar cadangan dunia untuk nickle ore. 
 
“Saya juga sampaikan kita tidak hanya berhenti sampai nickel ore, tapi juga pada palm oil, alumina, juga gasifikasi dan sebagainya. Nah dia nanya ke saya mengenai lingkungan, dan saya bilang ke dia kalau lingkungan kami sangat care karena kami punya kebijakan,” ungkapnya.
 
Menko Luhut mengungkapkan,  sesuai dengan arahan Presiden Jokowi bahwa kebijakan yang dibuat harus melihat ke generasi yang akan datang. Dia  memastikan tidak akan membuat kebijakan yang merusak lingkungan.
 
“Jadi orang tidak perlu mengajari kami soal itu( lingkungan). Untuk itu kami sekarang kembangkan energi ramah lingkungan yaitu hydro power,” ucapnya.
 
Menurutnya, Indonesia sangat kaya akan hydro power yakni hampir 40.000 megawatt, salah satunya di Kalimantan, di Papua dalam skala besar, serta di Pulau Jawa, Sumatera dalam skala kecil antara 100-300 megawatt. 
 
“Ada satu tempat di Kalimantan di Sungai Kayan Mamberamo, kita mau bikin integrated industry di sana. Nah itu akan menjadi satu integrated industry terbesar di dunia yang ramah lingkungan. Untuk itu kita harus menjaga lingkungan, karena area penting supaya airnya tetap bagus,” ujarnya.
 
“Dengan transformasi Indonesia menjadi sejahtera karena harga industry air ini hanya 2-4 sen per kilowatt hour. Mungkin kalaubsudah sekian tahun berjalan, sekitar 20 tahun, harganya akan di bawah 2 sen per kilowatt hour, artinya industri yang kita buat di situ pasti tidak ada yang bisa mengalahkan, karena bahan sebagian ada di Indonesia, sehingga Australia tidak akan pergi lagi ke China, di mana di China 9-10 sen per kilowatt hour, di Jepang malah 18 sen per kilowatt hour," paparnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Luhut Pandjaitan
Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top