Gapmmi Koreksi Target Pertumbuhan Industri Makanan dan Minuman, Ini Pemicunya

Ketua Umum Gapmmi Adhi S. Lukman berharap produksi industri makanan dan minuman (mamin) maksimal dapat tumbuh 8% secara tahunan.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 06 November 2019  |  18:52 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) menyatakan target pertumbuhan pada akhir tahun terkoreksi. Hal tersebut disebabkan oleh konsumsi konsumen kelas menengah bawah yang rendah. 

Ketua Umum Gapmmi Adhi S. Lukman berharap produksi industri makanan dan minuman (mamin) maksimal dapat tumbuh 8% secara tahunan. Dengan kata lain, target pertumbuhan terkoreksi minimal 100 basis poin (bps) dari target sebelumnya yakni sekitar 9%.

“Sampai semester satu pertumbuhan industri mamin 7,4%. Ini melihat perkembangan akhir-akhir ini, terutama pengaruh pasar global. Ekonomi global makin memburuk, makanya [target terkoreksi],” katanya kepada Bisnis.com, Rabu (6/11/2019).

Seperti diketahui harga komoditas dan mineral sepanjang tahun ini mengalami tekanan. Adhi berujar hal tersebut berpengaruh besar lantaran konsumen kelas menengah bawa dan bawah menggantungkan pendapatan kepada sektor perkebunan dan pertambangan.

Adhi menyampaikan konsumen kelas menengah bawah dan bawah mengalokasikan hingga 70% pendapatan untuk kebutuhan mamin. Namun demikian, konsumen kelas menengah atas dan atas hanya mengalokasikan sekitar 30%.

Menurutnya, serapan produk mamin pada konsumen menengah atas dan atas tidak mengalami perubahan. Namun demikian, jumlah konsumsinya tidak bisa digenjot lagi. “Tidak mungkin makan sehari enam kali.”

Adhi menyampaikan pemerintah dapat menggenjot konsumsi konsumen kelas menengah bawah dan bawah dengan mempercepat dan meningkatkan pengeluaran dana bantuan desa maupun pembangunan infrastruktur. Selain itu, pemerintah juga sebaiknya membagi pengeluaran per daerah sesuai dengan bobot kontribusi konsumsinya. 

Di sisi lain, Adhi mengatakan pihaknya akan mengurangi biaya produksi lebih dalam pada tahun depan. Hal tersebut untuk meminimalisir dampak resesi terhadap industri mamin. Pelaku industri, lanjutnya, akan memanfaatkan teknologi industri 4.0 lebih masif tahun depan.

Walaupun melakukan efisiensi, Adhi menyatakan pihaknya berharap tidak ada perumahan tenaga kerja. Maka dari itu, Adhi menilai program vokasional menjadi penting dalam menghadapi resesi tahun depan. “Yang dulu keahliannya Cuma angkat-angkat [barang] kami harus ubah agar bisa mengoperasikan hal-hal yang canggih,” katanya. 

Namun demikian, Adhi menyatakan pertumbuhan serapan tenaga kerja pada industri mamin pada tahu depan akan melambat. Menurutnya, hal tersebut akan terjadi agar industri mamin masih bisa terus berproduksi. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gapmmi, industri makanan dan minuman

Editor : Hendra Wibawa
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top