UMKM Tangguh Jadi Fondasi Hadapi Resesi Global

Ekonom menilai upaya mendorong UMKM naik kelas dapat mengurangi tingkat kemiskinan dengan cepat serta dapat mengurangi tingkat ketimpangan sekitar 4%. Lebih jauh, sektor UMKM dapat mengambil peran menjadi pondasi utama dalam menghadapi resesi global.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 19 Oktober 2019  |  08:35 WIB
UMKM Tangguh Jadi Fondasi Hadapi Resesi Global
Pedagang batik menunggu pembeli di Pasar 17 Agustus, Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Kamis (16/5/2019). - ANTARA/Saiful Bahri

Bisnis.com, JAKARTA — Ekonom menilai upaya mendorong Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) naik kelas dapat mengurangi tingkat kemiskinan dengan cepat serta dapat mengurangi tingkat ketimpangan sekitar 4 persen.

Lebih jauh, sektor UMKM dapat mengambil peran menjadi fondasi utama dalam menghadapi resesi global.

Ekonom Bidang UMKM dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Suhaji Lestiadi mengatakan saat ini, ancaman resesi global membayangi berbagai negara di belahan dunia akibat adanya perang dagang, terutama antara AS-China.

Situasi ini tentu akan menekan neraca perdagangan dalam negeri, mengingat kedua negara tersebut merupakan mitra dagang utama Indonesia. Untuk itu, dia menilai saat ini, sektor UMKM dan koperasi lah yang mampu menjadi penyangga sistem perekonomian nasional dalam menghadapi resesi.

“Saat krisis global 1998, UMKM sudah terbukti mampu menopang ekonomi Indonesia sehingga perekonomian Indonesia mampu bangkit kembali pada tahun-tahun selanjutnya,” tutur Suhaji dalam keterangan resmi yang diterima Bisnis, Sabtu (19/10/2019).

Menurutnya, pemerintah harus memberikan fokus dan perhatian lebih besar lagi bagi penguatan UMKM dan koperasi di Indonesia sehingga bisa naik kelas dan memiliki ketangguhan dalam menopang perekonomian Indonesia. Hal ini sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005 – 2025 yang menyasar tujuan peningkatan pertumbuhan ekonomi dan pengurangan ketimpangan.

Terkait resesi dan krisis ekonomi global, berdasarkan rilis yang dikeluarkan International Monetary Fund (IMF), pertumbuhan ekonomi global diperkirakan hanya mencapai 3 persen dan merupakan yang terendah sejak krisis. Situasi ini pun diprediksi berlanjut pada tahun selanjutnya.

Risiko resesi global terhadap Indonesia terindikasi dari penurunan pertumbuhan penjualan industri tekstil dan produk tekstil, properti, semen, baja, otomotif, dan penjualan ritel.

Realisasi ekspor Indonesia lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Penurunan ekspor ini dipengaruhi oleh penurunan ekspor migas hingga 37 persen, non migas 11 persen, dan produk pertanian 15,9 persen.

“Arah kebijakan ekonomi dalam menghadapi resesi global harus melibatkan penguatan kewirausahaan, UMKM, serta koperasi,” papar Suhaji.

Dia berpendapat UMKM harus mendapat perhatian utama karena besarnya kontribusi terhadap PDB Indonesia yang mencapai 62,5 persen, penyerapan tenaga kerja hingga 95 persen, dan sumbangan terhadap ekspor non migas hingga 16,45 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
umkm, ekonomi indonesia

Editor : Annisa Margrit
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top