Defisit Transaksi Berjalan Diperkirakan Mengecil

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menyatakan defisit pada neraca dagang September 2019 yang tercatat hanya US$14,10 miliar atau kontraksi 5,74% (yoy), dikarenakan tekanan pada volume ekspor sampai 8,53%, ditambah dengan penurunan harga rata-rata komoditas ekspor sekitar 13,15% (yoy). Alhasil, Andry memerinci, secara kumulatif dari Januari-September 2019 terjadi kontraksi pada ekspor sampai 8,00% (yoy).
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 16 Oktober 2019  |  11:11 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Defisit pada neraca dagang September 2019 sebesar US$160,5 juta diperkirakan masih bisa menambal defisit transaksi berjalan atau current account deficit menjadi kisaran 2,6% dari PDB pada kuartal III/2019.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menyatakan defisit pada neraca dagang September 2019 yang tercatat hanya US$14,10 miliar atau kontraksi 5,74% (yoy), dikarenakan tekanan pada volume ekspor sampai 8,53%, ditambah dengan penurunan harga rata-rata komoditas ekspor sekitar 13,15% (yoy). Alhasil, Andry memerinci, secara kumulatif dari Januari-September 2019 terjadi kontraksi pada ekspor sampai 8,00% (yoy).

“Kondisi neraca dagang September 2019 mencatat defisit US$160,5 juta, menurun dari surplus pada Agustus 2019 lalu US$112,4 juta. Alhasil kondisi neraca dagang Januari-September marsih defisit US$1,95 miliar, lebih kecil dari periode yang sama tahun lalu US$3,82 miliar,” katanya kepada Bisnis.com, Selasa (15/10/2019).

Ke depan, Andry memprakirakan atas kondisi tersebut, defisit transaksi berjalan kuartal III/2019 akan mengecil pada kisaran 2,6% dari PDB. Angka ini membaik dari CAD pada kuartal II/2019 dengan pelebaran 3% dari PDB.

Untuk memperkuat hal itu dia memerinci, kondisi impor pada September 2019 memang lebih tinggi sedikit dari ekspor, yakni US$14,26 miliar. Nilai ini masih turun 2,41% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (yoy).

Kondisi tersebut terlihat dari kenaikan volume impor pada September 2019 sekitar 5,73% (yoy), meskipun harga sejumlah komoditas impor mengalami pelemahan sekitar 7,70% (yoy). Alhasil kontraksi atas impor pada September 2019 tidak sebesar kontraksi pada ekspor sehingga memberi imbas defisit.

“Impor barang konsumsi, dan barang modal mengalami peningkatan sampai 6,09% [yoy], dan 8,91% [yoy], sedangkan impor bahan baku menurun 5,91% [yoy],” ujar Andry.

Di lain pihak, ekspor pada September 2019 mengalami penurunan 1,29% (mtm) dari Agustus 2019. Kondisi ini disebabkan adanya penurunan ekspor pada tiga komoditas andalan Indonesia yakni lemak dan minyak nabati, mesin dan barang elektronik, serta bahan baku mesin. Hal ini masih didukung dengan peningkatan ekspor dari China utamanya komoditas batu bara meningkat tipis berkat permintaan dari China menyambut musim dingin.

Andry mengingatkan, ke depannya eskalasi perang dagang AS dan China masih akan menjadi faktor eksternal yang mempengaruhi ekspor dan impor Indonesia. Dia juga mengingatkan pentingnya menjaga nilai tukar rupiah sampai akhir tahun 2019 pada kisaran Rp14.248 per dolar AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
defisit transaksi berjalan

Editor : Achmad Aris
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top