KETUA TIM PELAKSANA KPPIP WAHYU UTOMO : "Kita Masih Butuh Infrastruktur"

Selama 5 tahun terakhir, pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kala telah menetapkan ratusan proyek strategis nasional yang harus dituntaskan. Bagaimana realisasinya?
Puput Ady Sukarno & Sri Mas Sari
Puput Ady Sukarno & Sri Mas Sari - Bisnis.com 14 Oktober 2019  |  20:03 WIB
KETUA TIM PELAKSANA KPPIP WAHYU UTOMO :
Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi Menteri Lingkungan Hidup Siti Nurbaya (dari kiri) dan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, serta Deputi Bidang Koordinasi Percepatan Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Kemenko Perekonomian Wahyu Utomo (kedua kanan) mengunjungi pameran pemenang lomba foto pembangunan infrastruktur, di Monumen Nasional, Jakarta, Minggu (27/8). - ANTARA/Galih Pradipta

Bisnis.com, JAKARTA – Selama 5 tahun terakhir, pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kala telah menetapkan ratusan proyek strategis nasional (PSN) yang harus dituntaskan. Untuk mengetahui perkembangan terakhir tentang realisasinya, Bisnis.com berkesempatan mewawancarai Ketua Tim Pelaksana Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP) Kemenko Perekonomian, Wahyu Utomo. Berikut petikannya.

Bagaimana perkembangan PSN hingga akhir tahun ini?

Sampai dengan September, secara kumulatif dari 2016 hingga kuartal III/2019, sudah ada 81 PSN yang sudah selesai dengan nilai Rp390 triliun. Namun, kalau kita lihat secara keseluruhan, yang masuk konstruksi dan yang sudah selesai 84%. Artinya, pemerintahan Jokowi-JK sudah berhasil mendorong masuk proyek-proyek PSN paling tidak ke tahap konstruksi yang sudah di atas 80% tersebut.

Sampai akhir 2019, kami berpikir apa yang sudah masuk konstruksi ini kalau bisa kami selesaikan. Jadi, sampai kuartal IV/2019, kami mengusahakan paling tidak ada 103 proyek yang sudah selesai. Jadi, ada tambahan lagi. Pencapaian sebanyak 84% yang sudah konstruksi tadi kami harapkan setelah 2019 bisa diteruskan.

Pencapaian ini apakah sudah sesuai ekspektasi?

Kalau kami mau ekspektasi, sebetulnya pada kuartal III/2019 itu sudah 100% masuk konstruksi. Namun, ternyata ada beberapa proyek yang masih dalam tahap penyiapan, misalnya lantaran masyarakat tidak setuju proyeknya dilakukan di daerah mereka. Selain itu, masalah pendanaan, pembebasan tanah, dan lainnya sehingga belum bisa masuk ke tahap konstruksi.

Kalau dilihat, beberapa proyek yang belum masuk ke tahap konstruksi adalah proyek yang strategis juga, sehingga kami berpendapat akan mengkaji lagi dengan pemerintahan yang baru.Nanti dievaluasi untuk dilihat kelanjutan dari proyek-proyek yang belum masuk konstruksi ini, apakah lanjut atau tidak. Karena kalau dari tahun-tahun sebelumnya, ada 29 proyek yang dikeluarkan.

Apalagi biasanya, pemerintahan baru punya pemikiran atau arah yang lain. Namun, presidennya masih sama. Kami harapkan bisa mempercepat saja, kecuali masyarakat tidak mau lahannya dibikin ada proyek di sana, misalnya waduk.

Di antara beberapa proyek yang belum selesai, proyek mana yang kira-kira bakal paling sulit?

Waduk. Pembangunan waduk itu bukan karena waduknya itu sendiri, tetapi lebih kepada catchment area-nya. Itu harus menggeser masyarakat, SUTET [saluran udara teganggan ekstra tinggi] segala macam, meskipun kecil ya cukup menghambat, karena bisa saja infolding tidak bisa dilakukan gara-gara masih ada SUTET-nya, masih ada penduduk yang belum mau dipindah.

Kalau infrastruktur jalan masih okelah. Namun, apapun Infrastruktur kalau sudah masuk di perkotaan itu pasti sulit. Karena pertama banyak sekali terkait dengan kepala keluarga yang ada di situ, terus harganya minta tinggi jauh beda dengan appraisal, jadinya lama. Kalau di rural area malah lebih mudah.

Tahun depan pemerintah bakal fokus ke pembangunan SDM. Bagaimana di infrastruktur, apakah ada perubahan pola pembangunannya?

Kalau masalah pembangunan infrastruktur, rasanya juga masih akan diteruskan karena kami lihat RPJMN yang dibikin Bappenas 5 tahun ke depan malah lebih besar daripada 5 tahun kemarin.

Infrastruktur masih diperlukan di tempat kita. Kalau kita kemarin membangun infrastruktur backbone, masih membutuhkan infrastruktur yang menghubungkan dari backbone ke pusat-pusat ekonomi. Tentu saja yang namanya infrastruktur pendukung atau penghubung masih diperlukan.

Sumber : Bisnis Indonesia

Tag : proyek strategis nasional
Editor : Hendra Wibawa
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top