Akibat Kemarau Panjang, Budi Daya Ikan Diprediksi Meleset

Produksi budi daya perikanan tanpa rumput laut pada 2019 diprediksi meleset dari target seiring dengan kondisi iklim yang kurang kondusif. 
Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini - Bisnis.com 08 Oktober 2019  |  06:10 WIB
Akibat Kemarau Panjang, Budi Daya Ikan Diprediksi Meleset
Nelayan beraktivitas di sekitar karamba budi daya ikan air tawar di Danau Rawa Pening, Desa Asinan, Bawen, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Selasa (2/7/2019). - ANTARA/Aji Styawan

Bisnis.com, JAKARTA – Produksi budi daya perikanan tanpa rumput laut pada 2019 diprediksi meleset dari target seiring dengan kondisi iklim yang kurang kondusif. 

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada awal 2019 menargetkan produksi budi daya perikanan tanpa rumput laut mencapai 8,36 juta ton. Angka tersebut merupakan hasil revisi dari target awal yang mencapai 10,36 juta ton. 

Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto mengatakan target tersebut belum bisa tercapai karena kondisi kemarau panjang. 

Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kemarau diprediksi akan berlangsung hingga November 2019 di beberapa wilayah. 

“Kekeringan cukup panjang berpengaruh juga. Kemungkinan belum bisa mencapai target [8,36 juta ton],” ujarnya kepada Bisnis, Senin (7/10/2019). 

Kekeringan ini, kata dia, memengaruhi fluktuasi suhu air. Slamet menerangkan suhu di musim kemarau sangat tajam dan menyebabkan kadar garam yang tinggi pada air. 

Ketersediaan air di beberapa tambak seperti di Gresik juga terbatas. “Semua berpengaruh terhadap reproduksi ikan, pertumbuhan ikan, nafsu makan. Kalau kurang air, panen akan dipercepat,” imbuhnya. 

Oleh karena itu, Slamet memprediksi penurunan produksi budi daya perikanan hanya naik sekitar 5%—10% dari tahun lalu. Adapun, pada 2018, KKP mencatat produksi perikanan budi daya tanpa rumput laut mencapai hampir 7 juta ton. 

Di sisi lain, KKP terus mengantisipasi produksi perikanan budi daya di tengah musim kemarau ini. Misalnya dengan menyarankan petani untuk memakai teknologi recirculating aquaculture system (RAS) dalam proses pembenihan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perikanan, budi daya ikan

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top