Cerita dari Muara Baru : Rob, Tanggul Laut, dan Air Bersih

Sejauh ini, tanggul memang ampuh untuk menangkal rob. Namun, masih ada masalah pelik yang cukup membelit warga Muara Baru, yaitu air bersih.
Rivki Maulana
Rivki Maulana - Bisnis.com 03 Oktober 2019  |  06:52 WIB
Cerita dari Muara Baru : Rob, Tanggul Laut, dan Air Bersih
Suasana di proyek pembangunan tanggul laut di Muara Baru, Jakarta Utara, Selasa (31/10). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA — Jakarta kebanjiran, di Bogor angin ngamuk …. Sebait lagu Benyamin Sueb berjudul Kompor Meleduk mengalun dari pengeras suara milik Iwan (42). Tak ada yang istimewa dengan lagu itu. Hanya, kebanjiran cukup lekat bagi Iwan, warga Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara.

Di bawah naungan terpal, Iwan bercerita tentang Muara Baru kerap dilanda rob atau banjir air laut. Permukiman terendam menjadi hal yang tidak bisa dicegah karena air laut tak bisa dibendung.

"[Ketinggian] banjir itu sampai 2 meter. Sekarang sih sudah tidak waswas karena proyek [tanggul] sudah selesai," tuturnya saat ditemui Bisnis di Muara Baru, Rabu (2/10/2019).

Sebagaimana namanya, Muara Baru terletak di bibir pantai Teluk Jakarta. Dalam 30 tahun terakhir, perubahan ekstrem terjadi di Muara Baru. Air laut yang semula di bawah permukaan daratan kini di berada di atas.

Simang (54) bercerita tanah di permukiman perlahan ambles. Kondisi tanah yang terus amblass membuat air laut tak terbendung. Tak ayal rob kerap melanda.

Penurunan muka tanah atau land subsidence terlihat dari pemandangan di RT 20/RW 17, Kelurahan Penjaringan. Saya menjumpai, di lorong sepanjang 50 meter, rangka pintu atas maupun loteng bisa digapai dengan tangan. Tinggi bangunan hanya sekira 2 meter.

"Setiap tahun turun tanahnya. Tahun 85 [1985], air [laut] masih di bawah [permukaan daratan]. Sekarang malah di atas," tuturnya.

Deretan rumah di sepanjang lorong berhadapan dengan tanggul setinggi 4 meter. Di atas tanggul, kolam dan tanah kosong seluas lapangan sepak bola terhampar.

Permukiman di Muara Baru./Bisnis-Rivki Maulana

Tak terpaut jauh, Stasiun Pompa Waduk Pluit Timur berdiri. Walhasil, paket komplet untuk mencegah rob di Muara Baru telah tersedia.

Warni (54), pemilik warung Tegal di Muara Baru mengaku banjir bandang kini tidak lagi datang. Dia ingat betul ketika banjir sekira 2 meter terakhir menggenang Muara Baru pada 2007.

"Sekarang hanya rembes dan becek aja. Sejak ada tanggul sudah enggak banjir lagi," ujar Warni yang telah bermukim di Muara Baru sejak 1979.

PROYEK TERPADU

Muara Baru merupakan salah satu titik prioritas dalam proyek Pembangunan Terpadu Pesisir Ibu Kota Negara (PTPIN). Tahap pertama dari proyek yang juga dikenal dengan National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) digarap pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan swasta.

Data Kementerian Pekerjaan Umum & Perumahan Rakyat (PUPR) menunjukkan, panjang tanggul yang perlu segera dibangun mencapai 29,05 kilometer. Hingga saat ini tanggul yang terbangun baru mencapai 8,22 kilometer.

Dari panjang tersebut, Kementerian PUPR mendapat porsi 7,22 kilometer dan kini sudah terbangun sepanjang 4,50 kilometer. Tanggul yang belum dibangun terus dikerjakan dan diharapkan rampung pada akhir 2019. Lokasi tanggul yang dikerjakan Kementerian PUPR tersebar di Muara Baru, Kamal Muara, dan Kali Baru.

Sementara itu, porsi pembangunan tanggul oleh Pemerintah DKI Jakarta dan swasta masing-masing mencapai 7,03 kilometer dan 14,90 kilometer. Pemerintah DKI Jakarta telah membangun tanggul sejauh 4,42 kilometer, sedangkan progres swasta masih nihil.

Berdasarkan dokumen Kementerian PUPR, progres pembangunan tanggul yang menjadi porsi swasta nihil karena terbentur regulasi. Hingga saat ini belum ada aturan hukum yang menugaskan kalangan swasta untuk membangun tanggul.

Sejauh ini, tanggul memang ampuh untuk menangkal rob. Namun, masih ada masalah pelik yang cukup membelit warga Muara Baru, yaitu air bersih.

Permukiman berupa rumah susun di Muara Baru./Bisnis-Rivki Maulana

Nur, warga Muara Baru mengeluh tidak ada jaringan sistem penyediaan air minum di Muara Baru. Nur dan warga lain tidak mempunyai pilihan lain kecuali membeli air dalam jeriken.

"Sehari bisa Rp30.000 buat beli air. Satu jeriken Rp15.000," tuturnya.

Warni juga masygul tak ada air perusahaan air minum yang mengalir. Tinggal di bibir pantai juga membuatnya tak bisa menggali sumur untuk menyedot air tanah.

"Mau tidak mau harus beli. Habis ya mau bagaimana lagi!" ujarnya pasrah.

Secara umum, akses air bersih, terlebih lewat jaringan perpipaan di Jakarta belum merata. PAM Jaya melansir, cakupan pelayanan air minum baru mencapai 60 persen.

Dus, saat air laut bisa dihalau berkat adanya tanggul, air tawar belum bisa dihadirkan dengan harga terjangkau. Pekerjaan rumah masih belum tuntas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
muara baru, banjir rob, NCICD, tanggul laut

Editor : Zufrizal

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top