Pengunduran Diri 2 Direkturnya Ditolak, Operasional Sriwijaya Air Berlanjut

Direktur Kualitas, Keselamatan, dan Keamanan Sriwijaya Air Group Toto Soebandoro membenarkan adanya penolakan permohonan pengunduran diri yang diajukan Direktur Operasional Sriwijaya Air Group Fadjar Semiarto dan Direktur Teknik Sriwijaya Air Group Romdani Ardali pada 30 September 2019.
Rio Sandy Pradana
Rio Sandy Pradana - Bisnis.com 02 Oktober 2019  |  17:01 WIB
Pengunduran Diri 2 Direkturnya Ditolak, Operasional Sriwijaya Air Berlanjut
Penumpang tiba di Bandara Internasional Adi Sutjipto Yogyakarta, Jumat (4/5/2018). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA -- Sriwijaya Air Group dikabarkan telah menolak permohonan pengunduran diri dua direksinya pascaterjalinnya kembali kerja sama manajemen dengan Citilink Indonesia, anak usaha Garuda Indonesia Group.

Direktur Kualitas, Keselamatan, dan Keamanan Sriwijaya Air Group Toto Soebandoro membenarkan adanya penolakan permohonan pengunduran diri yang diajukan Direktur Operasional Sriwijaya Air Group Fadjar Semiarto dan Direktur Teknik Sriwijaya Air Group Romdani Ardali pada 30 September 2019.

"Dtolak pengunduran dirinya. Perusahaan telah menindaklanjuti rekomendasi yang menjadi alasan pengunduran diri mereka," kata Toto kepada Bisnis.com, Rabu (2/10/2019).

Setelah Sriwijaya kembali menjalin kerja sama manajemen dengan Garuda Indonesia Group, dia menjelaskan maskapai Sriwijaya telah mendapatkan dukungan operasional secara penuh. Dukungan itu terutama dari PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk. yang telah berkomitmen untuk kembali memasok suku cadang dan layanan perawatan pesawat. 

Dengan demikian, lanjutnya, standar keselamatan yang sebelumnya belum terpenuni sudah tertanggulangi.

Sebelumnya, Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPU) Kementerian Perhubungan melaksanakan pengawasan dan evaluasi kegiatan operasi penerbangan berdasarkan kemampuan yang dimiliki Sriwijaya. 

Ternyata, hasil laporan menunjukkan ketersediaan alat, perlengkapan, suku cadang minimal dan jumlah qualified engineer yang ada ternyata tidak sesuai dengan laporan yang tertulis dalam kesepakatan yang dilaporkan kepada Menteri Perhubungan.

Termasuk bukti bahwa Sriwijaya Air belum berhasil melakukan kerjasama dengan JAS Engineering atau MRO lain terkait dukungan Line Maintenance. Hal ini berarti Risk Index masih berada dalam zona merah 4A yang artinya tidak dapat diterima dalam situasi yang ada. Index itu menganggap bahwa Sriwijaya Air kurang serius terhadap kesempatan yang telah diberikan pemerintah untuk melakukan perbaikan.

Temuan tersebut kemudian disampaikan kepada Pelaksana Tugas Direktur Utama Sriwijaya Jefferson I. Jauwena dan tidak mendapatkan respons. Alasan tersebut membuat dua direksi memilih untuk mengajukan pengunduran diri untuk menghindari konflik kepentingan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
citilink, sriwijaya air, garuda indonesia

Editor : Hendra Wibawa

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top