Dagang-el Global Berkembang Buka Kesempatan Kawasan Industri

Pada semester II/2019 tercatat bidang logistik dan pergudangan modern hanya mengisi 2 persen dari keseluruhan lahan kawasan industri di Jabodetabek.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 01 Oktober 2019  |  08:30 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Satu riset menyebutkan bahwa perubahan pasar ritel ke ritel daring atau dagang-el, justru bisa membuka kesempatan lebih lebar untuk sektor properti logistik seperti pergudangan dan kawasan industri.

Berdasarkan riset tertulisnya, Head of Savills China James Macdonald mengatakan bahwa seperempat dari usaha ritel di China sudah dilakukan secara daring sehingga membuat China sebagai pasar dagang-el terbesar di dunia.

“Secara fisik, peritel di China sudah menderita dari adanya keterbatasan produk yang bisa diperdagangkan. Namun, dengan adanya dagang-el memungkinkan pedagang mendapat barang langsung dari pabrik sehingga harga jualnya bisa sangat kompetitif,” ungkap Macdonald dalam risetnya dikutip Bisnis, Senin (30/9/2019).

Selanjutnya, pasar dagang-el terbesar kedua, yakni Korea Selatan. Berdasarkan riset Savills Korea Research & Consultancy, ada 400 lebih pusat logistik di Korea Selatan.

Sementara itu, untuk pasar Eropa dan Asia lainnya, ritel dagang-el diuntungkan dari kepadatan penduduk. Oleh karena itu, negara-negara besar seperti di Australia, Kanada, dan Amerika Serikat harus berjuang lebih keras karena sebaran penduduknya yang lebih luas dan tidak terlalu padat.

Savills Head of Industrial Services di Amerika Utara Adam Petrillo mengatakan bahwa pertumbuhan ritel daring di Amerika Serikat tidak bisa setinggi di China atau Korsel, tetapi terus bertumbuh stabil karena sudah mulai banyak perusahaan yang melakukan strategi dengan berubah menjadi perusahaan omnichannel.

Selanjutnya, pasar dagang-el di Inggris memiliki kontribusi sebanyak 19 persen dari seluruh transaksi ritel sepanjang 2019.

Kevin Mofid, Director of Savills Industrial Research, mengatakan bahwa pasar properti logistik di Inggtis sudah mulai bertumbuh secara signifikan pada 2012.

“Bisa diprediksikan bahwa akan ada pergeseran permintaan yang cepat untuk logistik dan akan terus berulang. Eropa dan Inggris sudah merasakannya, selanjutnya yang perlu diawasi pertumbuhannya ke depan adalah pasar di Australia dan Asia Pasifik,” ungkap Mofid.

Di Indonesia sendiri, berdasarkan riset Colliers International semester II/2019, keterisian kawasan industri di Jabodetabek masih didominasi oleh perusahaan tekstil dan makanan minuman. Meskipun demikian, perusahaan logistik yang masuk juga mulai dan terus bertumbuh.

Pada semester II/2019 tercatat bidang logistik dan pergudangan modern hanya mengisi 2 persen dari keseluruhan lahan kawasan industri di Jabodetabek.

 Dengan adanya perkembangan industri dagang-el diharapkan bisa menggenjot keterisian kawasan industri dari bidang logistik.

“Sudah ada perusahaan e-commerce seperti Lazada, Blibli, dan Shopee yang mulai masuk dan mengisi lahan kawasan industri untuk dijadikan sebagai gudang modern dan logistik. Ke depannya, karena teknologi terus berkembang juga, pasar logistik juga pastinya akan terus bertumbuh,” ungkap Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Dagang-el, e-commerce, kawasan industri

Editor : Zufrizal

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top