Tren Wisata Naik, Saatnya Industri Perhotelan Tangkap Peluang

Naiknya tren wisata di seluruh dunia, terutama dari China, membuat kunjungan wisatawan di sejumlah kota-kota besar dari berbagai negara naik. Hal ini bisa membawa keberuntungan besar bagi industri properti hotel atau penginapan.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 27 September 2019  |  18:24 WIB
Tren Wisata Naik, Saatnya Industri Perhotelan Tangkap Peluang
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA — Naiknya tren wisata di seluruh dunia, terutama dari China, membuat kunjungan wisatawan di sejumlah kota-kota besar dari berbagai negara naik. Hal ini bisa membawa keberuntungan besar bagi industri properti hotel atau penginapan.

Berdasarkan riset Savills Global, wisatawan asal China sudah mendominasi kunjungan wisata di 25 kota wisata di seluruh dunia dan 11 di antaranya ada di Asia Pasifik.

Adapun, dari 11 kota di Asia Pasifik tersebut, tiga kota ada di Indonesia, yaitu Jakarta, Batam, dan Denpasar. Dalam dua tahun terakhir, pertumbuhan wisatawan Jakarta mencapai 29,2%, kemudian Batam tumbuh 23,3%, dan Denpasar tumbuh 32,7%.

"Kehadiran wisatawan China yang sangat besar membawa keberuntungan besar bagi industri hotel, yang mewah. Karena orang China konsumen terbesar barang mewah. Sekitar 76% orang China menghabiskan uangnya untuk barang mewah dengan belanja di luar negeri," kata Direktur Riset Savills Indonesia Anton Sitorus kepada Bisnis, Jumat (27/9).

Menurutnya, selain untuk industri perhotelan, industri ritel juga akan diuntungkan. Namun, pemilik properti ritel harus pintar-pintar menawarkan pengalaman baru bagi para pengunjung. Wisatawan dari kalangan milenial dan Gen Z bakal jadi pendorong utama.

"Milenial dan Gen Z ini ke mal sekarang tidak hanya untuk belanja, tapi juga mencari pengalaman baru, sama halnya dengan melakukan travelling," ujarnya.

Adapun data Savills Global menunjukkan bahwa keluarga di bawah usia 30 tahun yang menghabiskan penghasilannya untuk liburan dan akomodasi ke luar negeri naik 300% dibandingkan dengan pada 2009. Sedangkan, pengeluaran untuk akomodasi hotel dalam kota atau staycation naik 100%.

"Untuk industri akomodasi, mereka [milenial dan Gen Z] bisa menjadi sasaran pasar utama untuk mencari keuntungan. Apa lagi, beberapa tahun ke depan diperkirakan spending milenial dan Gen Z untuk liburan bisa lebih besar dari pengeluaran Gen X yang lebih tua," kata Anton.

Dia mengatakan kunci bagi penyedia akomodasi hotel lainnya selain menyediakan pengalaman adalah mengatur harga agar tetap terjangkau dan membuat tempat yang bisa memiliki berbagai fungsi, seperti coworking space, kafe, atau menempel dengan tempat belanja.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri perhotelan

Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top