LAPORAN DARI CHINA : Apa Untungnya Indonesia Menjadi Negara Kehormatan di CAEXPO 2019?

Pada gelaran 16th China-ASEAN Expo (CAEXPO) dan The 16th China-ASEAN Business and Investment Summit (CABIS), Indonesia didapuk sebagai Country of Honor. Lalu apa untungnya didapuk sebagai Negara kehormatan?
Gajah Kusumo
Gajah Kusumo - Bisnis.com 20 September 2019  |  18:42 WIB
LAPORAN DARI CHINA : Apa Untungnya Indonesia Menjadi Negara Kehormatan di CAEXPO 2019?
Konferensi pers rencana penyelenggaraan 16th China-ASEAN Expo (CAEXPO) dan The 16th China-ASEAN Business and Investment Summit (CABIS) di Nanning, China pada 21-24 September 2019, Jumat (20/9). Tampak hadir Gao Feng, Juru Bicara Kementerian Perdagangan China (Kiri), Romeo Jr. Abad Arca, Asisten Direktur Divisi Komunikasi Sekretariat Asean, dan Yang Yanyan, Deputi Sekjen Sekretariat CAEXPO. - Bisnis/Gajah Kusumo

Bisnis.com, NANNING — Pada gelaran 16th China-ASEAN Expo (CAEXPO) dan The 16th China-ASEAN Business and Investment Summit (CABIS), Indonesia didapuk sebagai Country of Honor. Lalu apa untungnya didapuk sebagai Negara kehormatan?

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyebut pemberian kehormatan sebagai Country of Honor memberikan optimisme terhadap peluang peningkatan akses pasar ke China. “Itu karena Indonesia mendapatkan beberapa kelebihan yang ditawarkan pada CAEXPO ke-16," jelas Mendag, dalam siaran tertulisnya, Jumat (20/9/2019).

Kelebihan tersebut yaitu mendapatkan letak dan posisi Paviliun Indonesia yang strategis sehingga diharapkan jumlah pengunjung meningkat dari tahun sebelumnya.

Selain itu, Indonesia juga menjadi negara prioritas dalam agenda-agenda pertemuan bisnis (business to business) selama CAEXPO berlangsung.

Gao Feng, Juru Bicara Kementerian Perdagangan China, menegaskan negara yang didapuk sebagai Country of Honor maupun Special Partner bakal menerima manfaat yang efektif dari perhelatan kali ini.

“Indonesia sebagai Country of Honor akan meluncurkan Paviliun Nasional bertajuk City of Charm, yang merupakan promosi nasional atas perdagangan maupun kebudayaan, sedangkan Polandia sebagai Special Partner akan mempresentasikan negara dan produk kompetitif yang dimilikinya,” ujarnya dalam konferensi pers The 16th China-ASEAN Expo (CAEXPO) dan The 16th China-ASEAN Business and Investment Summit (CABIS), Jumat (20/9/2019).

Tahun ini, Indonesia menghadirkan dua paviliun, yaitu Paviliun Komoditas dan Paviliun Nasional (City of Charm). Paviliun Nasional Indonesia (City of Charm) mengusung konsep Rumah Sawit Indonesia yang akan menampilkan produk sawit dari hulu ke hilir.

CAEXPO merupakan salah satu pameran yang rutin diikuti Indonesia guna memperkuat akses pasar dan menjalin kerja sama perdagangan dengan China. CAEXPO diikuti 10 negara ASEAN dan tahun ini merupakan  partisipasi ke-16 kalinya bagi Indonesia.

Pada 2018, partisipasi Indonesia terbilang sukses. Transaksi pada CAEXPO 2018 meningkat 190%, dari US$2,14 juta pada 2017 menjadi sebesar US$6,2 juta atau senilai Rp93,14 miliar pada 2018.

“CAEXPO 2019 diharapkan dapat mendulang sukses seperti tahun sebelumnya dengan jumlah pengunjung dan transaksi yang meningkat dari tahun lalu,” ujar Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Dody Edward dalam penjelasan tertulisnya, Jumat (20/9).

Melalui tema Building Belt & Road Routes, Realizing Our Vision for A Community of Shared Future, CAEXPO dan CABIS 2019 diselenggarakan di Nanning, China, pada 21—24 September 2019 dengan bertempat di Nanning International Convention and Exhibition Center, Guangxi Agricultural Exhibition Center, dan Nanning Huanan City.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, total perdagangan Indonesia-China periode Januari—Juli 2019 tercatat sebesar US$39,69 miliar, turun 2,68% dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya sebesar US$40,79 miliar.

Adapun, ekspor RI ke Negeri Panda sepanjang Januari—Juli 2019 senilai US$14,78 miliar, turun 6,54% dari ekspor periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$15,82 miliar. Sebaliknya, impor dari China pada Januari—Juli tahun ini tercatat US$24,90 miliar, turun tipis 0,24% dari periode sama tahun sebelumnya US$24,96 miliar.

Dengan demikian, pada periode Januari—Juli 2019, Indonesia mencatatkan defisit dagang sebesar US$10,12 miliar, naik 10,67% dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya sebesar US$9,14 miliar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, asean, Enggartiasto Lukita

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top