KABAR PASAR: Angin Segar Kredit & Konsumsi, Kawasan Berikat Mandiri Kerek Daya Saing

Berita mengenai angina segar bagi kredit dan konsumsi masyarakat dari bauran kebijakan moneter menjadi sorotan edisi harian Bisnis Indonesia, Jumat (20/9/2019).
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 20 September 2019  |  07:56 WIB
KABAR PASAR: Angin Segar Kredit & Konsumsi, Kawasan Berikat Mandiri Kerek Daya Saing
Karyawan keluar dari gedung Bank Indonesia di Jakarta. - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Berita mengenai angina segar bagi kredit dan konsumsi masyarakat dari bauran kebijakan moneter menjadi sorotan edisi harian Bisnis Indonesia, Jumat (20/9/2019).

Berikut beberapa perincian topik utamanya: 

Angin Segar Kredit & Konsumsi. Bauran kebijakan moneter dan makroprudensial diyakini memacu penyaluran kredit dan meningkatkan konsumsi masyarakat, sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Kawasan Berikat Mandiri Kerek Daya Saing. Daya saing ekspor dan investasi akan lebih meningkat sejalan dengan adanya Kawasan Berikat Mandiri yang memudahkan arus distribusi barang.

Melalui Kawasan Berikat Mandiri, pelayanan rutin atas pemasukan barang dilakukan secara mandiri oleh perusahaan penerima fasilitas atas persetujuan Bea Cukai.

BI Optimistis Posisi CAD Membaik. Bank Indonesia optimistis current account defi cit atau defi sit transaksi berjalan masih bisa membaik. Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan defi sit transaksi berjalan pada 2019 dan 2020 diprediksi tetap terkendali dalam kisaran 2,5%—3,0% dari Produk Domestik Bruto (PDB) yang ditopang besarnya aliran masuk modal asing.

Otoritas Waspadai Lonjakan Sengketa. Otoritas pajak memperkirakan sengketa pajak terkait dengan transfer pricing akan meningkat karena lebih dari 60% transaksi lintas yurisdiksi dilakukan oleh perusahaan multinasional.

Bank Sentral Eropa Susul The Fed. European Central Bank (ECB) mengikuti langkah Federal Reserve System (The Fed) yang melakukan intervensi di pasar keuangan.

ECB memberikan pinjaman gratis jangka panjang senilai 3,4 miliar euro atau US$3,8 miliar kepada pemberi pinjaman di Eropa untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan inflasi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kabar pasar

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top