Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KNPK : Waktu Penaikan Cukai Rokok Tidak Tepat

Kondisi industri hasil tembakau saat ini terus mengalami tren penurunan performa yang dimulai setidaknya sejak 2016.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 16 September 2019  |  13:51 WIB
Buruh melakukan pelintingan sigaret kretek tangan (SKT) di sebuah pabrik rokok, di Kudus, Jawa Tengah. - Antara
Buruh melakukan pelintingan sigaret kretek tangan (SKT) di sebuah pabrik rokok, di Kudus, Jawa Tengah. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku industri hasil tembakau (IHT) menilai kenaikan cuka rokok sebesar 23% pada awal tahun depan tidak masuk akal. Pasalnya, kondisi IHT saat ini terus mengalami tren penurunan performa yang dimulai setidaknya sejak 2016.

Komite Nasional Pelestarian Kretek (KNPK) menyatakan kenaikan cukai tersebut akan merugikan petani, buruh, pabrikan, dan juga pemerintah.

“Kami tegas menolak keputusan ini karena dampak kerugian yang ditimbulkan sangat besar,” ujar Azami Mohammad dalam keterangan tertulis, Senin (16/9/2019).

Azami mengatakan kenaikan cukai lebih dari 20% pada tahun depan berpotensi membuat omzet pelaku IHT merosot 15%-20%. Adapun, penurunan penjualan industri rokok pada tahun ini diprediksi berakselerasi menjadi 7% (yoy) dari realisasi taun lalu turun 2%.

Menurutnya daya beli masyarakat terhadap rokok akan berkurang lantaran kenaikan cukai tersebut tidak sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yakni 5%. Alhasil, serapan tembakau dan cukai ke pabrikan pun diprediksi akan anjlok.

Azami mengatakan pihaknya memproyeksikan serapan tembakau pada tahun depan dapat turun 30%, sedangkan serapan cengkeh dapat merosot hingga 40%. KNPK meramalkan volume rokok ilegal di pasar domestik akan meningkat dengan kenaikan cukai tersebut.

“Ketika konsumen dihadapkan pada semakin tidak terjangkaunya harga rokok legal, mengonsumsi rokok ilegal akan menjadi pilihan. Rokok ilega akan membanjiri pasar seiring dengan tingginya angka permintaan rokok [yang terjangkau],” katanya.

Gabungan Pengusaha Rokok Malang (Gaperoma) menyatakan jumlah peredaran rokok ilegal naik hingga 12% pada tahun lalu dari posisi tahun sebelumnya yakni 7%. Adapun, rokok ilegal tersebut diduga berasal dari rokok segmen kelas bawah yang sensitif terhadap harga. Harga rokok ilegal lebih murah dari rokok legal hingga 60%.

Azami meminta agar pemerintah menghitung ulang kenaikan cukai tahun depan. Pasalnya, perhitunga tersebut dapat merugikan negara secara langsung.

“Kalau alasannya adalah menurunkan konsumsi, sekalian saja ditutup industrinya. Jangan dibunuh pelan-pelan,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Cukai Rokok industri tembakau
Editor : Galih Kurniawan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top