Kabut Asap Kian Pekat, Ini Imbauan ke Nakhoda di Wilayah Sumatra dan Kalimantan

Tunda penerbitan Surat Persetujuan Berlayar jika kabut asap mengganggu pelayaran.
Putri Salsabila
Putri Salsabila - Bisnis.com 15 September 2019  |  12:44 WIB
Kabut Asap Kian Pekat, Ini Imbauan ke Nakhoda di Wilayah Sumatra dan Kalimantan
Umat muslim mendengarkan ceramah usai melaksanakan Sholat Idul Adha di halaman Masjid Raya Annur dengan kondisi kabut asap karhutla yang menyelimuti Kota Pekanbaru, Riau, Minggu (11/8/2019). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA -- Kementerian Perhubungan mengeluarkan imbauan para nakhoda kapal untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kabut asap yang dapat mengganggu keselamatan pelayaran.

Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Ditjen Perhubungan Laut Kemenhub Ahmad juga menginstruksikan agar Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Ditjen Perhubungan Laut di wilayah Sumatra dan Kalimantan yang terpapar oleh kabut asap untuk meningkatkan pengawasan. Selain itu, mereka diminta memperhatikan kondisi cuaca juga lingkungan sebelum menerbitkan Surat Persetujuan Berlayar (SPB).

"Melihat perkembangan Kahutla [kebakarn hutan dan lahan] belakangan ini yang berdampak terhadap pelayaran di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan, kami meminta kepala UPT Ditjen Perhubungan Laut mengutamakan keselamatan pelayaran dan tunda penerbitan SPB bila kondisi kabut asap sangat tebal," tegasnya dalam siaran pers, Minggu (15/9/2019).

Menurutnya, kabut asap yang menyelimuti Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) Kalimantan Tengah juga berdampak pada terganggunya jarak pandang di sektor transportasi laut. 

Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IV Kumai Capt. Wahyu Prihanto mengimbau para nakhoda yang berlayar agar meningkatkan kewaspadaan dengan memperhatikan jarak pandang.

Selain itu, para nakhoda diimbau agar setiap hari memantau pelayaran transportasi di laut baik kapal yang datang maupun masuk dalam rangka memberikan informasi terhadap cuaca sekitar wilayah teluk Kumai.

Wahyu menuturkan nakhoda kapal harus selalu memperhatikan perubahan-perubahan cuaca, terutama cuaca di sekitar teluk Kumai. Saat ini, kabut asap yang ada di Kobar diakibatkan kebakaran lahan dan hutan (Kahutla) yang menimbulkan asap pekat, apalagi cuaca saat ini musim kemarau.

“Kami menerbitkan notice to marine [Notam] kepada kapal-kapal yang akan masuk ke teluk Kumai, khususnya terhadap para nakhoda kapal pelayaran rakyat  dan juga para nelayan agar memperhatikan jarak pandang," terang Wahyu.

Hal serupa juga dilakukan oleh Kepala KSOP kelas II Tanjung Buton, Zainuddin yang telah mengeluarkan Notam terhadap pemilik dan nakhoda kapal yang melintas di wilayah selat Bengkalis dan juga menuju Tanjung Buton. Para nakhoda diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kabut asap yang terjadi di wilayah Bengkalis, Riau akhir-akhir ini.

"Dengan kondisi kabut asap ini seluruh nakhoda ataupun operator kapal agar berhubungan dengan stasiun radio pantai terdekat dan melaporkan kondisi cuaca saat berlayar dan kita juga sudah meminta kepada stasiun radio pantai agar menginformasikan kepada seluruh kapal yang melewati alur pelayaran di selat Bengkalis, Selat Lalang atau pun sungai Siak untuk berhati-hati," kata Zainuddin.

Zainuddin juga meminta kepada kapal kapal yang melintas untuk menggunakan alat navigasi yang ada di kapal dan menghidupkan lampu navigasi jika dibutuhkan pada saat pelayaran.

"Kami mengimbau kepada kapal-kapal yang masuk ke alur sungai atau selat agar lebih waspada karena jarak pandang terbatas, berlayarlah dengan kecepatan yang aman agar tidak terjadi hal hal buruk selama berlayar," kata Zainuddin.

Dia juga mengimbau agar kapal pompong nelayan di Selat Lalang, Selat Bengkalis dan Selat Melaka dalam melaksanakan aktivitas pelayaran untuk selalu berhati-hati. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Karhutla, Kabut Asap, pelayaran

Editor : Hendra Wibawa

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top