Kampanye Negatif Korindo, Ekspansi Produksi CPO Tertahan

Korindo Group menyatakan kampanye negatif terhadap perseroan membuat rencana ekspansi produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) tertahan.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 09 September 2019  |  23:46 WIB
Kampanye Negatif Korindo, Ekspansi Produksi CPO Tertahan
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA — Korindo Group menyatakan kampanye negatif terhadap perseroan membuat rencana ekspansi produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) tertahan.

Ekspansi tersebut bertujuan untuk mengikuti potensi kenaikan pertumbuhan serapan dalam negeri dan menuruti aturan pemerintah.

Senior Manager Resources Management Division Korindo Luwy Leunufna mengatakan perseroan belum dapat mempersiapkan ekspansi terkait potensi pertumbuhan serapan CPO nasional terkait program B30 dan B50.

Luwi mengutarakan kampanye negatif tersebut membuat perseroan melakukan moratorium pembukaan kebun plasma.

Selain untuk mempersiapkan peningkatan serapan tersebut, Luwy mengatakan pembangunan kebun plasma tersebut untuk memenuhi imbauan pemerintah untuk memiliki kebun plasma sebesar 20 persen dari total lahan kebun sawit.

“Kalau kami bisa membangun 20 persen saja, itu ekuivalen 10 persen - 15 persen dari total produksi CPO [perseroan] saat ini,” katanya, Senin (9/9/2019).

Luwy berujar lebih dari 90 persen dari total produksi CPO perseroan didistribusikan di dalam negeri.

Menurutnya, pasar domestik masih lebih menjanjikan daripada pasar non-tradisional seperti oseania. Sementara itu, utilitas pabrik CPO perseroan masih di posisi 80 persen hingga semester I/2019.

Luwy mengutarakan kampanye negatif kepada perseroan membuat investasi baru ke daerah Papua tertahan. Bahkan, beberapa pelaku industri mempertimbangkan untuk merelokasi pabrik ke luar Papua.

“Itu yang kami sayangkan. Kami berharap besar dengan adanya kehadiran investor baru [di Papua]. Saya yakin, ketika Korindo hadir banyak perubahan yang terjadi [di Papua], apalagi kalau ada perusahaan [baru] lain [yang mendirikan pabrik di Papua],” katanya.

Ketua Umum Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (Gimni) Sahat Sinaga sebelumnya mengutarakan  jika green diesel yang menggunakan 30 persen minyak nabati (B30) lolos uji tes lapangan pada akhir kuartal III/2019 dan digunakan pada 2020, PT Pertamina akan membutuhkan 9,5 juta ton minyak sawit untuk pembuatan fatty acid methyl ether (FAME) kelapa sawit pada tahun depan.

Adapun, pengembangan BBN biohidrokarbon dan bioavtur akan menyerap 1,2 juta ton minyak nabati.

Sementara itu, imbuhnya, proyeksi produksi minyak nabati pada tahun depan adalah 51,5 juta ton dengan komposisi kebutuhan industri hilir lokal sekitar 10 juta ton.

Adapun, proyeksi ekspor pada tahun depan adalah 37,8 juta ton. Jika pemanfaatan minyak nabati untuk energi diterapkan, imbuhnya, proyeksi ekspor minyak nabati akan terkontraksi sekitar 8 juta ton.

“Volume ekspor akan short. Makanya, kita tidak perlu sibuk dengan Eropa [yang hanya menyerap] 6,5 juta ton [minyak nabati]. Kalau mereka tidak mau [menyerap], kita akan pakai domestik,” ujarnya kepada Bisnis belum lama.

Maka dari itu, Sahat menyampaikan perlu adanya penanaman kembali pohon-pohon sawit yang produktivitasnya sudah menurun.

Pasalnya, ujarnya, selain kebutuhan minyak sawit yang terus meningkat, kebutuhan minyak sawit untuk industri hilir pun diproyeksi akan tumbuh 38,61 persen menjadi 14 juta ton pada 2025.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
korindo, kelapa sawit

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top