Hitung-hitungan Sebelum Beli Hunian

Perencana keuangan Zelts Consulting Ahmad Gozali mengatakan bahwa banyak survei yang membuktikan bahwa generasi milenial mengalami penurunan minat untuk kepemilikan rumah.
Tika Anggreni Purba
Tika Anggreni Purba - Bisnis.com 04 September 2019  |  15:21 WIB
Hitung-hitungan Sebelum Beli Hunian
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA — Ada survei yang menunjukkan bahwa kalangan milenial kurang berminat untuk membeli rumah. Namun ternyata, ketika milenial memutuskan beli rumah, persiapan mereka jauh lebih matang daripada kelompok umur yang lebih tua.

Perencana keuangan Zelts Consulting Ahmad Gozali mengatakan bahwa banyak survei yang membuktikan bahwa generasi milenial mengalami penurunan minat untuk kepemilikan rumah.

Menurutnya, sebagian milenial lebih memilih untuk menyewa ketimbang memiliki rumah sendiri. “Pertimbangan biaya dan kepraktisan yang menjadi pertimbangan utama,” ujarnya belum lama ini.

Akan tetapi, bagi milenial yang memiliki minat untuk membeli rumah sendiri, Ahmad mengatakan bahwa persiapan mereka cenderung lebih baik dari generasi sebelumnya. Generasi milenial dinilai lebih sadar investasi dan memiliki lebih banyak akses untuk produk investasi.

Masalanya, faktor keuangan sering jadi pengalang. Itulah sebabnya Ahmad menyarankan untuk melakukan persiapan sedini mungkin. “Makin cepat memulai perencanaan, makin mudah melakukannya. Jadi mulailah rencana pembelian rumah sejak memiliki penghasilan sendiri,” katanya lagi.

Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan survei sederhana tentang harga rumah dan pemukiman yang potensial. Anak muda biasanya akan sangat kaget dengan harga rumah yang mereka anggap ideal, karena harga rumahnya sangat mahal.

“Dan mungkin akan lebih mencengangkan lagi begitu melihat harga rumah yang murah lokasinya akan sangat menjauh dari pusat kota,” ujarnya.

Walau begitu, agaknya milenial saat ini memiliki alternatif seperti hunian berorientasi transit dan vertikal. Ahmad menyarankan agar mereka yang ingin mencari hunian juga melakukan survei untuk aparteman di sepanjang jalur transportasi massal.

Langkah berikutnya, kata Ahmad, sisihkan sepertiga dari penghasilan untuk menyiapkan uang muka. “Berapapun penghasilannya, sisihkan 1/3 dari penghasilan ke dalam tabungan untuk persiapan uang muka,” katanya.

Secara hitungan kasar, pembelian rumah dikatakan aman saat harga rumah yang dibeli tidak lebih dari 26x penghasilan bulanan.

Katakanlah seseorang memiliki penghasilan Rp5 juta per bulan, maka rumah yang bisa dibeli seharga Rp130 juta. “Dengan memasukkan ke dalam perhitungan KPR, cicilan yang perlu dibayar sekitar Rp 1,6 juta atau 1/3 dari penghasilan bulanan,” katanya.

Misalkan, Anda mau membeli rumah di daerah Bogor, Depok, Tangerang, atau Bekasi dengan harga hunian termurah adalah Rp200 juta, maka penghasilan minimum yang diperlukan adalah Rp7,6 juta.

Pemilihan Lokasi

Bagi calon pembeli rumah yang sudah menikah, ada beberapa perubahan yang mempengaruhi rencana keuangannya. Ahmad mengatakan bahwa pemilihan lokasi akan menjadi pertimbangan berdua, bukan hanya sendiri.

“Biasanya lokasi kerja istri (jika bekerja), lokasi rumah mertua, juga ikut menjadi pertimbangan, dan hal ini tentu akan mempengaruhi harga,” katanya.

Selain itu perencanaan keuangan untuk membeli rumah dapat berdasarkan joint income suami-istri sehingga bisa membeli rumah dengan harga yang lebih tinggi. “Tetapi tetap harus diperhatikan penambahan pengeluaran, karena kalau sudah menikah tentu pengeluarannya akan berbeda daripada yang lajang,” katanya.

Ahmad menilai persetujuan di bank akan lebih mudah jika sudah menikah. Bank memberikan poin kepercayaan yang lebih tinggi pada pasangan yang sudah menikah daripada yang masih lajang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
properti, perumahan

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top