Pasar Perkantoran Masih Lesu, Pemulihan Baru Tahun Depan

Dalam 4 tahun terakhir, setiap tahun ada tambahan pasok 400.000—500.000 meter persegi yang masuk ke pasar perkantoran Jakarta.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 27 Agustus 2019  |  17:42 WIB
Pasar Perkantoran Masih Lesu, Pemulihan Baru Tahun Depan
Pembangunan properti residensial dan perkantoran di Jakarta Pusat - Reuters/Darren Whiteside

Bisnis.com, JAKARTA – Melihat pasar perkantoran dan ritel yang masih lesu di Jakarta, PT CS Land bersama Media Group yang tergabung dalam CS Media Investment tetap percaya diri meluncurkan bangunan mixed-use di jantung kota Jakarta.

Director Strategic Consulting Cushman & Wakefield Indonesia Arief Rahardjo mengatakan bahwa potensi bagi Indonesia 1 untuk terjual sangat tinggi. Pasalnya, gedung tersebut menawarkan kelas premium yang pasoknya sangat terbatas di Jakarta.

“Di Jakarta, pasok kantor itu 60 persen ada di pusat bisnis [central business district/CBD] dan dari total pasok yang ada, hanya 10 persen kelas premium. Jadi, dari segi pasok jumlahnya memang terbatas. Padahal peminatnya terutama dari perusahaan multinasional yang ekspansi di sini besar sekali,” ungkapnya pada konferensi pers peluncuran Indonesia 1 di Jakarta, Selasa (27/8/2019).

Arief menyebutkan bahwa dalam 4 tahun terakhir setiap tahunnya ada tambahan pasok 400.000—500.000 meter persegi yang masuk ke pasar perkantoran Jakarta. Pada 2019 diperkirakan okupansinya hanya 72 persen.

“Ke depan, kami lihat dengan makin terkontrolnya future supply yang masuk dan kemudian ada improvement dari office market, absorbsi-nya mulai membaik. Kami harap 2020 bisa mulai recovery, 2023 office market sudah kembali membaik di mana okupansi mencapai 85 persen,” tutur Arief.

Jika berbicara mengenai kelas premium, Arief menerangkan bahwa okupansinya lebih tinggi dari kebanyakan perkantoran kelas lainnya karena terbatasnya pasok dan memang kebanyakan dari penyewa yang masuk adalah perusahaan multinasional yang memerlukan spesifikasi yang baik

Project Director CS Land Tay Swee Eng menyebutkan bahwa di proyek senilai Rp8 triliun itu, saat ini sudah ada sejumlah penyewa yang mengajukan ketertarikannya untuk bergabung, di antaranya dari sektor makanan, minuman, dan hiburan. Namun, untuk harga yang ditawarkan bagi para penyewa, Tay enggan menyebutkan.

“Selain dengan kualitas bangunan yang baik, dan sangat menunjang experience, ditambah lokasinya yang berada di tengah Jakarta, dekat dengan MRT, Indonesia 1 yakin okupansinya dari kantor, ritel, dan apartemennya akan sangat baik, dan bisa menjadi sarana yang baik sekali untuk investasi juga,” ungkap Tay.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perkantoran, cbd

Editor : Zufrizal

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top