Lawan Kampanye Hitam, Pengusaha Tegaskan Minyak Sawit Aman bagi Kesehatan

Wakil Sekjen Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Agam Fatchurohman menegaskan produk makanan dan olahan yang memiliki kandungan minyak sawit aman bagi kesehatan. 
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 21 Agustus 2019  |  20:11 WIB
Lawan Kampanye Hitam, Pengusaha Tegaskan Minyak Sawit Aman bagi Kesehatan
Minyak sawit - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Wakil Sekjen Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Agam Fatchurohman menegaskan produk makanan dan olahan yang memiliki kandungan minyak sawit aman bagi kesehatan. 

Menurutnya, meski ada kampanye hitam terkait minyak sawit di Eropa, konsumsi minyak sawit mengalami peningkatan.

Adapun eskpor minyak sawit Indonesia ke Eropa sepanjang tahun ini sebesar 4,7 juta ton, turun sekitar 5% dari tahun sebelumnya. Adapun hingga Mei, total minyak sawit yang dieskpor ke Eropa sebanyak 2 juta ton. 

Kendati terjadi pergeseran konsumsi minyak sawit yang digunakan lebih banyak sebagai energi dibandingkan dengan makanan. 

"Sawit dengan minyak nabati lainnya, sawit lebih aman. Kinerja ekspor sawit ini naik tetapi sentimen negatif sawit tetap ada," ucapnya dalam konferensi pers bersama BPOM, Rabu (21/8/2019).

Dia berharap agar kampanye hitam palm oil free ini tak meluas, dan pemerintah pun melalukan edukasi kepada masyarakat dan produsen. 

"Untuk yang di Eropa, bersama dengan pemerintah, kami lakukan expo dan riset bersama. Seperti awal bulan ini di Moskwa, festival, kami asosiasi sawit berpartisipasi sawit sebagai upaya meredakan kampanye hitam," ujar Agam.

Terpisah, Wakil Ketua Umum Gapki Togar Sitanggang menuturkan tidak ada data kuantitatif yang memaparkan terjadinya penurunan ekspor minyak kelapa sawit ke Eropa maupun secara keseluruhan akibat adanya kampanye negatif. 

"Penurunan ekspor tidak semata krn label. Ada banyak faktor yamg mempengaruhi ekspor ekonomi, mata uang, komoditas lain dan lain sebagainya," katanya.

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Khamdani berpendapat dampak label palm oil free itu hanya pada industri makanan minuman kemasan atau olahan.

 

 

"Hanya di eropa, tidak menunjukkan dampak serius di Asia. Bagaimanapun juga minyak CPO utk industri makanan olahan tetap masih paling ekonomis dengan kualitas terbaik," tuturnya. 

Sementara itu, untuk industri peralatan mandi dam kosmetik masih sangat memerlukan bahan baku CPO. Pasalnya, hingga saat ini belum memungkinkan digantikan oleh minyak nabati lainnya sehingga tidak terdapat upaya labelisasi bebas CPO di dua jenis industri ini.

Shinta menilai kampanye label negatif ini mesti dibalas dengan kampanye label positif tentang industri CPO Indonesia yang sudah sejalan dengan standar sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO). 

"Justru musti dilawan bersama aliansi negara produsen CPO," katanya.

 Ketua Komite Tetap Ekspor Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Handito Joewono menuturkan agar kampanye ini idak meluas dan tidak berdampak besar, perlu dibuat kampanye pendamping oleh pelaku usaha Indonesia dengan dukungan badan sawit. 

"Dengan dukungan badan sawit ini tidak memperluas badan sawit tetapi jangan defensif ya," ucapnya. 

Untuk diketahui, berdasarkan data GAPKI, eskpor  minyak kelapa sawit Indonesia secara keseluruhan (CPO dan produk turunannya, biodiesel dan oleochemial)  pada 2018 mencapai 34,71 juta ton, meningkat dari tahun sebelumnya yang sebanyak 32,18 juta ton. Pada 2016, ekspor minyak sawit Indonesia sebanyak 25,11 juta ton. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
minyak sawit

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top