Jokowi: Indonesia tidak Mau Proteksionisme

Presiden Joko Widodo menyatakan pemerintah tidak akan menerapkan strategi proteksionisme. Pernyataan itu disampaikan oleh Jokowi di acara peresmian pembukaan Hari Belanja Diskon Indonesia di Senayan City, Jakarta, Kamis (15/8/2019).
Yodie Hardiyan
Yodie Hardiyan - Bisnis.com 15 Agustus 2019  |  20:20 WIB
Jokowi: Indonesia tidak Mau Proteksionisme
Presiden Joko Wiodo memberikan keterangan saat menerima kunjungan tim redaksi Harian Bisnis Indonesia, di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (29/5/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA  - Presiden Joko Widodo menyatakan pemerintah tidak akan menerapkan strategi proteksionisme.

Pernyataan itu disampaikan oleh Jokowi di acara peresmian pembukaan Hari Belanja Diskon Indonesia di Senayan City, Jakarta, Kamis (15/8/2019).

"Ini musimnya, musim kita nggak mau proteksi. Kita terbuka. Pasar kita terbuka. Kita tidak mau proteksionisme," kata Jokowi dalam acara yang dihadiri penyewa tenan mal dan pemilik mal.

Jokowi menyatakan sekarang merupakan masa-masa terjadinya perang dagang. Menurutnya, harus ada strategi dari pengusaha pemilik mal untuk membantu pemerintah agar barang impor tidak membanjiri Indonesia.

Dalam kesempatan itu, Jokowi memberikan tugas kepada Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo). Tugas itu adalah bekerjasama dengan pemilik mal supaya mencarikan tempat yang strategis bagi merk-merk lokal di mal.

Jokowi menyebut sejumlah merk lokal seperti restoran Sari Ratu atau J.co harus mendapatkan tempat di bagian depan mal. Jokowi meminta Ketua Umum Hippindo Budiharjo Iduansjah supaya berbicara dengan para pemilik mal.

"Kalau pemilik mal sulit-sulit ngomong saya. Produsennya harus kita, produksi dalam negeri, produsen dalam negeri beri tempat baik. Di Australia seperti itu. Produk-produk dalam negeri ditaruh di paling depan kalau ada mal. Kenapa kita tidak tiru strategi bagus itu," kata Jokowi.

Dalam acara itu, Jokowi menyampaikan pidato soal pentingnya keberpihakan terhadap produk lokal. Selain itu, Jokowi mengingatkan bahwa neraca perdagangan Indonesia masih defisit.

Seperti diketahui, neraca dagang Indonesia defisit US$63,5 juta per Juli 2019. Neraca dagang yang defisit berarti nilai impor lebih besar daripada nilai ekspor.

"Kalau kita senengnya barang impor. Impar, impor, impar, impor, terutama ibu-ibu. Senangnya kalau sudah pegang brand luar seneng banget. Ini apa ini, tas, sepatu," kata Jokowi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Jokowi, proteksionisme

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top