Potensi Pasar Pemasangan PLTS Atap di Indonesia Capai 116 GWp

IESR menyatakan potensi teknis listrik surya atap pada bangunan rumah di 34 provinsi Indonesia mencapai 194 - 655 gigawatt peak (GWp) dengan potensi pasar pemasangan 34 - 116 GWp atau sekitar 17,7 persen dari potensi teknis. 
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 30 Juli 2019  |  11:56 WIB
Potensi Pasar Pemasangan PLTS Atap di Indonesia Capai 116 GWp
Aktivitas pengunjung pada pameran Internasional Panel Surya & Smart City (Solartech Indonesia 2019) di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (4/4/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA --  Institute For Essential Services Reform (IESR) menyatakan potensi teknis listrik surya atap pada bangunan rumah di 34 provinsi Indonesia mencapai 194 - 655 gigawatt peak (GWp) dengan potensi pasar pemasangan 34 - 116 GWp atau sekitar 17,7 persen dari potensi teknis. 

Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa mengakui investasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia sangat tertinggal. Berdasarkan data International Renewable Energy Agency (Irena), pemasangan PLTS di Indonesia baru sebesar 60 megawatt peak (MWp) dan data terakhir Kementerian ESDM sebesar 95 MWp. 

Sementara itu, di Singapura pemasangan PLTS telah mencapai 150 MWp dan mengarah ke 250 MWp. 

"Apabila dibandingkan dengan Vietnam yang baru mengembangkan surya, kita jauh tertinggal, padahal kita telah mengembangkan sejak 1980," katanya, Selasa (30/7/2019). 

IESR menilai ada sejumlah tantangan yang dihadapi Indonesia dalam pemasangan PLTS, yakni tarif yang tidak menarik karena besaran biaya pokok penyediaan (BPP) pembangkitan yang sebesar 85 persen dari BPP lokal, suku bunga bank lokal ke pengembang yang sangat tinggi antara 10 persen hingga 15 persen, tingginya syarat tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) yang sebesar 40 persen hingga 60 persen, skema BOOT yang mengahruskan pengembang mentransfer aset ke PLN, dan adanya alokasi risiko yang tidak seimbang. 

Berbeda dengan Indonesia, kondisi ini tidak dialami di empat negara lainnya dengan pengembangan PLTS yang cukup besar seperti di India dengan kapasitas PLTS terpasang 24,2 GWp, Mexico 3GWp, Uni Emirat Arab 487 MWp, dan Brazil 2.056 MWp.  

"Investasi [energi baru terbarukan/EBT] di Indonesia sangat sedikit dibanding global. Investasi terbesar di PLTS. Jadi, surya merupakan tren dan tren investasi PLTS belum sampai ke Indonesia. Tantangannya bagaimana kita bisa mengubah tren ini," katanya. 

Koordinator Riset IESR Pamela Simamora mengatakan dalam riset pemasangan PLTS di dua wilayah kota besar Indonesia, yakni Jabodetabek dan Surabaya, ada dua kategori rumah calon pemasang. 

Pertama, early adopters, yakni rumah tangga yang tertarik memasang PLTS atap dengan sedikit perhitungan finansial. Kedua, early followers, yakni kelompok rumah tangga yang akan memasang PLTS atap dengan masih memperhitungkan untung rugi.

Adapun dengan biaya Rp13 hingga Rp18 juta per kilowatt peak (KWp) sebagai modal awal, PLTS atap memang masih menjadi pertimbangan penting bagi sebagian besar masyarakat. 

"Persepsi mengenai harga listrik surya atap yang mahal membuat responden di dua kota ini mengharapkan adanya skema pendanaan dalam bentuk cicilan tetap dengan tenor lima tahun dan adanya insentif dari pemerintah untuk meringankan biaya di muka," katanya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
energi terbarukan, plts

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top