Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jaga Daya Saing, Asia Pacific Fibers Pacu Diversifikasi

Diversifikasi membuat produk dapat bersaing dari sisi nilai tambah yang dimiliki.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 24 Juli 2019  |  10:50 WIB
ilustrasi - JIBI/Rahmatullah
ilustrasi - JIBI/Rahmatullah

Bisnis.com, JAKARTA — Salah satu produsen poliester, PT Asia Pacific Fibers Tbk., telah menyiapkan strategi untuk mengantisipasi dampak negatif perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

Prama Yudha Amdan, Head of Corporate Communication and PR Asia Pacific Fibers, mengatakan pihaknya memiliki strategi diversifikasi produk yang memiliki nilai tambah. Dengan demikian, produk perseroan bisa bersaing dari nilai tambah yang dimiliki, bukan dari aspek harga.

“Beberapa produk kami yang bernilai tambah antara lain benang anti api, benang khusus untuk otomotif, dan benang anti bakteri. Dengan value added product, kami bisa bersaing dari aspek keunggulan produk, kalau produk komoditas persaingan di harga,” ujarnya, Selasa (23/7/2019).

Menurutnya, perang dagang saat ini menggangu pasar perseroan karena barang impor, terutama dari China, masuk ke pasar domestik dalam volume yang besar. Penjualan emiten dengan kode saham POLY ini sebesar 60% menyasar pasar dalam negeri.

Prama mengatakan dampak perang dagang bisa terlihat dari impor tekstil yang meningkat dan berdampak pada penjualan, terutama produk komoditas yang bersaing dari segi harga. Kinerja perseroan pada kuartal I/2019 turun 3,99% (yoy) menjadi US$113,58 juta.

Dia mengatakan dari perang dagang yang terjadi, terdapat ekses kapasitas dari kedua negara yang berkonflik akibat tidak bisa masuk ke masing-masing negara. Negara yang tidak memiliki proteksi yang cukup pun menjadi tempat ‘pembuangan’ produk idle tersebut.

“Saat ini, Indonesia tidak memiliki proteksi yang cukup sehingga trennya produk impor jadi bahan pokok dan pasar terganggu. Sebelumnya kan barang impor itu bertujuan mengisi kekurangan atau memenuhi barang yang belum bisa diproduksi dalam negeri,” ujarnya.

Selain proteksi yang kurang, Prama menilai saat ini ketidakpastian sangat tinggi. Tidak hanya karena faktor global, melainkan juga dari dalam negeri.

Dia memberi contoh, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) pada menteri terdahulu berada di urutan 11 dari 15 industri prioritas dan saat ini, kurang dari 5 tahun, menjadi 5 industri prioritas utama. Tentunya, menjadikan sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) merupakan langkah yang baik, tetapi bisa saja berubah ketika susunan menteri diganti.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Industri Tekstil
Editor : Galih Kurniawan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top