Ini Syarat Utama Tingkatkan Pelanggan Industri PLN

PT PLN (Persero) menilai jika harga jual listrik ke pelanggan industri dapat ditekan lebih rendah lagi, konsumsi listrik golongan tersebut akan meningkat. 
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 16 Juli 2019  |  15:45 WIB
Ini Syarat Utama Tingkatkan Pelanggan Industri PLN
Teknisi Unit Pekerjaan Dalam Keadaan Bertegangan (PDKB) PLN melakukan perawatan pada trafo di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Selasa (9/7/2019). - Bisnis/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA -- PT PLN (Persero) menilai jika harga jual listrik ke pelanggan industri dapat ditekan lebih rendah lagi, konsumsi listrik golongan tersebut akan meningkat. 

Hingga saat ini, tarif dasar listrik (TDL) dipatok senilai Rp1.467 per kilowatt hour (kWh) untuk tegangan rendah, Rp1.115 per kWh untuk tegangan menengah, dan Rp997 per kWh untuk tegangan tinggi. TDL tersebut telah berlaku sejak 2017 dan dipastikan tidak naik hingga akhir 2019. 

Plt. Direktur Utama PLN Djoko Rahardjo Abumanan mengatakan salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya konsumsi listrik pelanggan industri adalah penggunaan pembangkit yang dipakai untuk kebutuhan sendiri. Sebagian pelanggan industri menilai hal tersebut lebih efisien daripada harus membeli listrik dari PLN.

Menurut Djoko, apabila harga jual listrik PLN mampu bersaing dengan listrik hasil pengoperasian pembangkit sendiri mampu bersaing, bahkan lebih murah, pelanggan industri bakal bersedia beralih ke listrik PLN. 

Djoko menilai pertumbuhan konsumsi industri bisa didorong oleh berbagai program yang disiapkan PLN, salah satunya dengan memberikan diskon.

"Lebih baik kita beri diskon asal bisa semakin banyak konsumsi listrik. Semakin tinggi pertumbuhan konsumsi, maka akan memberi margin yang bisa menutup biaya investasi," katanya kepada Bisnis, Selasa (16/7/2019). 

Selain itu, faktor eksternal berupa kegiatan perekonomian yang terus bertumbuh juga akan sangat menentukan. Contohnya Bali yang hingga Mei 2019 mampu mencatatkan pertumbuhan listrik sebesar 7,89 persen lantaran terus tumbuhnya kegiatan pariwisata. 

"Bali itu sebelum World Bank Summit negatif pertumbuhannya, tiap tahun turun, tetapi sekarang bisa naik. Mudah-mudahan dengan adanya kegiatan internasional, ekonomi bisa tumbuh seperti di Jakarta yang akan ada formula E pada 2020 nanti," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
PLN, listrik, industri

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top