Wood Mackenzie : Kemajuan Pengembangan Blok Masela Penting bagi Indonesia

Disepakatinya revisi rencana pengembangan atau plan of development (POD) I proyek LNG Lapangan Abadi, Blok Masela dinilai sebagai kemajuan yang ditunjukkan Pemerintah Indonesia dalam memberikan kemudahan bagi investor.
David Eka Issetiabudi
David Eka Issetiabudi - Bisnis.com 15 Juli 2019  |  19:02 WIB
Wood Mackenzie : Kemajuan Pengembangan Blok Masela Penting bagi Indonesia
Presiden Joko Widodo tiba untuk memimpin rapat terbatas tentang Minyak dan Gas Bumi, di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Rabu (23/1/2019). - ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA — Disepakatinya revisi rencana pengembangan atau plan of development (POD) I proyek LNG Lapangan Abadi, Blok Masela dinilai sebagai kemajuan yang ditunjukkan Pemerintah Indonesia dalam memberikan kemudahan bagi investor.

Research Director Wood Mackenzie Andrew Harwood mengatakan bagi Indonesia, kemajuan pengembangan proyek LNG Lapangan Abadi menjadi hal yang mendesak.

“Hal ini karena kebutuhan akan LNG diprediksi akan meningkat hingga 13 juta metrik ton per tahun [MMTPA] pada 2030 di saat kebutuhan gas meningkat dan produksi menurun,” katanya dalam keterangan resmi, Senin (15/7/2019).

Menurutnya, kemajuan pengembangan Blok Masela memberi dampak positif bagi Inpex setelah berhasil dalam proyek LNG Ichthys di Australia. Andrew menambahkan produksi puncak Lapangan Abadi akan menghasilkan 180.000 barel setara minyak per hari (BOEPD) dan sesuai dengan target jangka panjang Inpex dalam mencapai produksi 1 juta BOEPD.

Di sisi lain, bagi Shell yang memegang 35 persen hak partisipasi di Blok Masela, proyek Abadi berada pada level yang tidak istimewa dibandingkan portofolio LNG lainnya.

Sebelumnya, meskipun sempat ada rumor bahwa Shell akan hengkang dari Masela, Wood Mackenzie memperkirakan aksi divestasi dari Shell tidak akan terjadi sampai proyek tersebut mendekati tahap investasi akhir.

“Dengan disetujuinya rencana pengembangan Masela, Inpex akan menjalani proses studi lingkungan dan rekayasa sebelum masuk ke tahap FID [final investment decision],” tambahnya.

Wood Mackenzie juga mencatat beberapa tantangan bagi proyek tersebut, antara lain pihak-pihak yang terlibat akan menghadapi pasar rekayasa, pengadaan dan pembangunan (engineering, procurement, and construction/EPC) karena sejumlah proyek LNG global akan beroperasi pada periode yang sama.

“Kedua, Inpex juga harus bersaing untuk mencari pembeli LNG sebanyak 9.5 MMTPA. Terakhir, operator Blok Masela juga harus menghadapi sejumlah tantangan teknis, seperti lokasi fasilitas LNG di darat yang terpencil hingga membangun pipa gas sepanjang 150 kilometer,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
migas, blok masela

Editor : Lucky Leonard

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top