Kementan Dorong Swasembada Daging lewat Budi Daya Intensif

Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong segera terealisasinya swasembada daging dengan mengajak peternak melakukan budaya sapi pedaging secara intensif dan pemberian IB (Inseminasi Buatan) lewat program Upsus Siwab (Operasi Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting) gratis.
Choirul Anam
Choirul Anam - Bisnis.com 28 Juni 2019  |  14:45 WIB
Kementan Dorong Swasembada Daging lewat Budi Daya Intensif
Mentan Andi Amran Sulaiman di di Loka Penelitian Sapi Potong, Grati, Pasuruan, Jumat (28/6/2019) - Choirul Anam

Bisnis.com, PASURUAN—Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong segera terealisasinya  swasembada daging dengan mengajak peternak melakukan budaya sapi pedaging secara intensif dan pemberian IB (Inseminasi Buatan) lewat program Upsus Siwab (Operasi Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting) gratis.

Mentan Andi Amran Sulaiman mengatakan lewat program tersebut maka diharapkan swasembada daging dapat segera terealisasi. Pengalaman di negara maju, seperti Australia, swasembada daging bisa dilaksanakan dalam kurun 9-10 tahun.

“Mudah-mudahan Indonesia bisa setelah melihat realisasi dari program tersebut yang sangat positif,” katanya di sela-sela kunjungan kerja di Loka Penelitian Sapi Potong, Grati, Pasuruan, Jumat (28/6/2019).

Hal itu dapat dilihat dalam 4,5 tahun terakhir. Dalam kurun tersebutt pertambahan sapi pedaging yang tumbuh tinggi, yakni mencapai 1 juta ekor/tahun.

Pertumbuhan sapi pedaging sebanyak itu berarti ada kenaikan 500% bila dibandingkan sebelum Pemerintahan Presiden Jokowi yang  hanya mencapai 185.000-200.000 ekor/tahun.

Faktor tingginya pertumbuhan populasi sapi pedaging nasional, kata dia, karena adanya insentif dari pemerintah berupa pemberian IB Upsus Siwab bagi peternak. Setiap tahun pemerintah membagikan 4 juta semen beku pada peternak.

Lewat program tersebut, maka pertumtumbuhan populasi sapi pedaging naik pesat. Jika pada 2013 populasi sapi pedaging nasional mencapai 12,7 ekor, namun pada 2019 meningkat menjadi 17,2 juta ekor sehingga ada pertambahan 4 juta ekor lebih.

Yang juga perlu didorong, kata dia, model pembudayaannnya. Dengan bibit sapi yang unggul dan pembudidayaan yang baik, maka berat sapi bisa mencapai 1-2 ton selama 3 tahun, jika dengan cara konvensional, hanya 400 kg.

Begitu juga soal pakan ternak. Dengan teknologi sederhana, bisa dibuat pakan konsentrat sapi seharga Rp1.700/kg, padahal jika harus membeli di pasar bisa mencapai Rp4.500/kg.

Dengan harga pakan yang bisa ditekan, maka peternak bisa menjadi lebih antusias beternak sapi pedaging karena keuntungan yang diperoleh akan meningkat. Apalagi harga daging sapi saat masih stabil.

Jatim, kata dia, merupakan daerah yang potensial dalam usaha peternakan sapi pedaging. Jatim menyumbang 38% dari total populasi sapi pedaging nasional.

“Jika Jatim dan daerah-daerah yang lain yang potensial dapat digenjot jumlah sapi pedagingnya, maka realisasi swa sembada daging akan segera terealisasi,” ucapnya. Saat ini, impor daging masih mencapai 400-600 ton/tahun.

Arah pengembangan pertanian dan peternakan ke depan, kata dia, adanya kemandirian pakan, daging, dan pertanian. Implementasinya, peternak bisa membuat sendiri pakan ternak dengan kualitas baik dengan biaya yang rendah.

Begitu juga dengan kegiatan IB Upsus Siwab, petani dapat melakukan penyuntikan sendiri ke sapi, sedangkan pemerintah membantu semen bekunya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kementan, swasembada daging

Editor : Rustam Agus
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top