Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penuhi Kebutuhan Daging Sapi Tahun Ini, 6 Kapal Ternak Kembali Dikerahkan

Enam kapal ternak kembali dikerahkan pada 2019 untuk mencukupi sebagian kebutuhan daging sapi di pasar domestik yang tahun ini diperkirakan 686.270 ton.
Sri Mas Sari
Sri Mas Sari - Bisnis.com 05 Januari 2019  |  16:00 WIB
Ilustrasi kapal yang termasuk program tol laut - Antara/Kornelis Kaha
Ilustrasi kapal yang termasuk program tol laut - Antara/Kornelis Kaha
Bisnis.com, JAKARTA -- Enam kapal ternak kembali dikerahkan pada 2019 untuk mencukupi sebagian kebutuhan daging sapi di pasar domestik yang tahun ini diperkirakan 686.270 ton. 
 
Jumlah armada itu sama dengan tahun lalu, mencakup KM Camara Nusantara I sampai dengan VI, yang beroperasi dari pelabuhan pangkal di Kupang, Bima, dan Celukan Bawang Bali, dengan pelabuhan muat di Kupang, Waingapu, Atapupu, Wini, Bima,  Badas, Lembar, dan Celukan Bawang. Adapun pelabuhan tujuannya adalah Tanjung Priok, Cirebon, Bengkulu, Balikpapan, Samarinda, Banjarmasin. dan Pare-Pare.
 
Enam kapal tersebut dioperasikan oleh PT Pelni (Persero), PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), dan perusahaan swasta.
 
Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut Kementerian Perhubungan Wisnu Handoko menjelaskan kapal ternak merupakan upaya pemerintah meningkatkan distribusi ternak dari daerah sentra ke wilayah konsumen.
 
Menurut dia, penyelenggaraan kapal khusus angkutan ternak memperhatikan prinsip kesejahteraan hewan (animal welfare) sehingga dapat meminimalkan penyusutan bobot ternak 8%-10%. Adapun jika menggunakan kapal kargo, penyusutan bobot ternak lebih dari 13%.
 
"Ini tentunya harus dapat dimanfaatkan oleh pengusaha atau pedagang sapi mengingat kapal ternak ini didesain agar sapi tiba di tujuan dengan kondisi baik dan segar," kata Wisnu, Sabtu (5/1/2019).
 
Dalam rangka efisiensi anggaran belanja negara, pembiayaan perawatan ternak atau kleder dibebankan kepada pemilik ternak. Dari sisi operasional teknis lapangan, kleder dari pemilik ternak juga lebih mengetahui karakteristik ternak.
 
Pengoperasian kapal ternak juga perlu dilengkapi dengan timbangan ternak untuk mendata bobot sapi saat pemuatan di pelabuhan asal sampai penurunan di daerah tujuan dan mengevaluasi efektivas kapal ternak.
 
“Pengelolaan timbangan ternak dapat dilakukan oleh lembaga karantina hewan, PT Pelindo, atau pun dinas peternakan pemerintah daerah,” kata Wisnu.
 
Berdasarkan penelitian salah satu institusi peternakan Australia, ternak yang dibawa oleh kapal kargo mengalami penyusutan bobot 20%-30% dengan tingkat kematian 10%. Namun dengan kapal khusus ternak yang disediakan Kemenhub, penurunan bobot kurang dari 5% dan tingkat kematiannya hanya 1%.
 
"Di kapal ternak juga disiapkan dokter hewan dan perawat agar ternak tetap sehat hingga tujuan," tambah Wisnu.
 
Kemenhub meminta operator kapal dan pemilik ternak (shipper) menerapkan sistem infomasi muatan dan ruang kapal (IMRK) agar tidak terjadi monopoli muatan.
 
Di sisi lain, lanjut Wisnu, agar dapat menekan biaya operasi yang sangat tinggi yang dibebankan kepada negara, perlu pemanfaatan muatan balik berupa produk-produk atau hasil industri dari daerah konsumen ternak ke daerah penghasil ternak.
 
“Muatan balik yang dapat diangkut oleh kapal ternak adalah muatan yang bersifat tidak terkontaminasi oleh aroma kandang sapi dan tidak merusak kandang sapi itu sendiri dengan penerapan tarif menggunakan tarif komersial berdasarkan harga pasar,” tuturnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Tol Laut
Editor : Fajar Sidik
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top